MAKALAH ILMU KALAM Tentang AHLUSSUNNAH (SALAF DAN KHALAF)


MAKALAH

ILMU KALAM

Tentang

AHLUSSUNNAH (SALAF DAN KHALAF)

Lambang IAIN Bagus

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Ahlussunnah

Ahlusunnah merupakan kata majemuk dari kata ahl dan al-sunnah.kata ahl berarti keluarga atau kelompok, sedangkan al-sunnah berarti kebiasaan dan ajaran yang disampaikan dan ajaran yang disampaikan oleh nabi.

Mayoritas ummat Islam di seluruh dunia adalah pengikut sunni atau ahlussunnah. Menurut Maulana Abu Said Al-Kadimy Ahlussunnah adalah orang-orang yang pengikut sunnah Rasulallah. Artinya berpegang teguh dengannya. Sedangkan yang di maksud Al-Jama’ah ialah jama’ah Rasulullah dan mereka adalah para sahabat dan tabi’in. mereka itu adalah orang-orang yang di jamin selamat dari api neraka. Firqoh ini terbagi menjadi dua yakni ahlussunnah salaf dan ahlussunah khalaf, yang akan dibahas dalam makalah ini adalah ahlussunnah Salaf.[1]

  1. Asal-Usul Penamaan Ahlussunnah

Madzhab ahlussunnah merupakan jalan yang ditempuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Mereka bukan pembuat bid’ah, sehingga nama tersebut tidak dinisbatkan kepada perorangan atau kelompok. Itulah mengapa kami katakan penamaan ahlussunnah tidak mengatakan lahirnya ahlussunnah. Karena madzhab ahlussunnah ini lahir pada tahun sekian.

Menurut Ibn taimiyah, madzhab ahlussunnah adalah madzhab yang telah ada ssejak dulu. Ia sudah dikenal sebelum Allah menciptakan Abu Hanifah, Malik, Syafi’I, dan Ahmad. Ahlussunnah adal;ah madzhab sahabat yang telah menerimanya dari Nabi mereka. Barang siapa menentang itu, menurut pandangan ahlussunnah, berarti ia pembuat bid’ah. Mereka telah sepakat bahwa Ijma’ sahabat adalah hujjah, tapi mereka berbeda pendapat tentang kedudukan ijma’ orang-orang sesudah sahabat.

Adapun mengenai awal penamaan ahlussunnah ialah ketika telah terjadi perpecahan, munculnya berbagai golongan, serta banyaknya bid’ah dan penyimpangan. Pada saat itulah ahlussunnah menampakkan identitasnya yang berbeda dengan yang lain, baik dalam aqidah maupun manhaj mereka. Namun pada hakikatnya, mereka itu hanya merupakan proses kelanjutan dari apa yang dijalankan Rasulullah Saw dan para sahabatnya.[2]

  1. Aliran As-Salaf
    1. Pengertian salaf

Arti salaf secara bahasa adalah pendahulu bagi suatu generasi. Sedangkan dalam istilah syariah Islamiyah as-salaf itu ialah orang-orang pertama yang memahami, mengimami, memperjuangkan serta mengajarkan Islam yang diambil langsung dari shahabat Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam, para tabi’in (kaum mukminin yang mengambil ilmu dan pemahaman/murid dari para shahabat) dan para tabi’it tabi’in (kaum mukminin yang mengambil ilmu dan pemahaman / murid dari tabi’in). istilah yang lebih lengkap bagi mereka ini ialah as-salafus shalih. Selanjutnya pemahaman as-salafus shalih terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits dinamakan as-salafiyah. Sedangkan orang Islam yang ikut pemahaman ini dinamakan salafi. Demikian pula dakwah kepada pemahaman ini dinamakan dakwah salafiyyah.

Definisi salaf menurut Thablawi Mahmmud Sa’ad, salaf artinya ulama terdahulu. Salaf terkadang dimaksudkan untuk merujuk generasi sahabat, Tabi’I tabi’tabi’in, para pemuka abad ketiga dan para pengikutnya pada abad ke 4H yang terdiri atas para muhadisain dan yang lainnya. Salaf berarti pula ulam-ulama shaleh yang hidup padas tiga abad pertama islam. Menurut Asyah Rastani, ulama salaf adalah yang tidak menggunakan ta’wil (dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat) dan tidak mempunyai paham tasyibih. Sedangkan Mahmud Al-Bisyi Bisyi dalam Al-Firoq Al-Islamiyah mendefinisikan salaf sebagai sahabat, tabi’in, dan tabi’in yang dapat diketahui dari sikapnya menampik penafsiran yang mendalam mengenai sifat Allah yang menyerupai saegala sesuatu yang baru untuk menyucikan dan menggunakannya.

Ibrahim masykur menguraikan karakteristik ulama salaf atau salafiyah sebagai berikut:

  1. Mereka lebih mendahulukan riwayat (Naqli) dari pada dirayah (“akal”)
  2. Dalam persoalan pokok-pokok agama (ushuludin) dan persoalan-persoalan cabang agama (furu’adin), mereka hanya bertolak dari penjelasan dari Al-Kitab dan rasional.
  3. Mereka mengimani Allah tanpa perenungan lebih lanjut (tentang zat-NYA) dan tidak pula mempunyai paham antropomorpisme.
  4. Mereka memahami ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna lahirnya dan tidak berupaya untuk mena’wilkannya.

Ciri khas golongan ini adalah, mereka kembali kepada penafsiran harfiah (literalis) atau nash dan memunculkan tradisi kalam dan hukum, sebagaimana ketika perkembangan pertama dalam islam, terutama pemikiran-pemikiran Ahmad bin Hambal, serta menolak dominasi menolak dominasi akal dalam memecahkan berbagai masalah keagamaan.

Menurut Harun Nasution, secara kronologis salafiyah bermula dari imam ahmad ibnu hambal. Lalu ajarannya di kembangkan Imam ibnu Taimiyah, kemudian disuburkan oleh imam Muhammad Ibnu Abdul Wahhab, dan akhirnya berkembang di dunia islam secara sporadis.[3]

  1. Riwayat hidup Imam Ahmad bin Hambal dan Ibnu Taimiyah
    1. Imam Ahmad Bin Hanbal

Ia dilahirkan di bagdad tahun 164/780 M, dan meninggal 241 H/855 M. ia sering dipanggil Abu Abdillah karena salah seorang anaknya bernama Abdillah. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Imam Hanbali karena merupakan pendiri mazhab Hanbali.

Ibunya bernama Shahifa binti Abdul Malik Ibn Sawadah Ibn Asy-syaibani, bangsawan Bani Amir. Ayahnya bernama Muhammad Ibn Hanbal Ibn Hilal Ibn Anas Ibn Idris Ibn Abdullah Ibn Hayyan Ibn Akabah Ibn sya’ab Ibn Ali bin Jadalah Ibn Asad bin Rabi Al-Hadits Ibn moyangnya nabi Muhammad.

Ayahnya meninggal ketika Ibn Hanbal Masih remaja. Namun, ia telah memberikan pendidikan Al-Qur’an kepada Ibn Hanbal . pada usia 16 tahun, ia belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama yang lainnya kepada ulama-ulama Baghdad. Lalu mengunjungi ulama-ulama terkenal di kuffah, Basrah, Syam, Yaman, Mekah, Madinah. Diantara guru-gurunya adalah Hammad Ibn khallid, Ismail Ibn ‘Aliyyah, Muzzafar Ibn Mudrik, Walid Ibn Muslim, Muktammar Ibn Sulaiman, Abu Yusuf Al-Qadi, Yahya Ibn Zaidah, Ibrahim Ibn Sa’id, Muhammad Idris Ibn Asy-Syafi’i, Abd Rozak Ibn Huma, Dan Musa Ibn Thariq. Dari guru-gurunya, Ibn Hanbal mempelajari ilmu Fiqh, Hadits, Tafsir, Kalam, dan Bahasa arab.

Di antara murid-murid Ibn Hanbal adalah Ibn taimiyah, Hasan Ibn Musa, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Abu zuhrah Ad-Damsyiqi, Abu Zuhrah Ar-Razi, Ibn Abi Ad-Dunia, Abu Bakar Al-Asram, Hanbal Ibn Ishaq Asy-Syaibani, Shaleh, Dan Abdullah. Kedua orang yang disebutkan terakhir adalah putra Ibn Hanbal.Ibnu hanbal dikenal sebagai zauhid. Hampir setiap hari ia berpuasa dan hanya tidur sebentar. Ia juga dikenal sebagai orang dermawan.

  1. Ibnu Taimiyah

Nama lengkap Ibn Taimiyah adalah Taqiyuddin Ahmad Ibn Abi Al-halim Ibn taimiyyah. Dilahirkan di Harran pada tahun (661H/729H). kewafatannya telah menggetarkan  dada seluruh penduduk Damaskus, Syam, dan Mesir, serta kaum muslimin pda umumnya. Ayahnya bernama Syihabbuddin Abu Ahmad Abdul Halim Ibn Abdussalam Ibn Abdullah Ibn Taimiyah, seoraqng Syaikh, Khatib dan Hakim dikotanya.

Dikatakan oleh Ibrahim Madkur Ibn Taimiyah merupakan tokoh salaf yang ekstrim karena kurang memberikan ruang gerak leluasa kepada akal. Ia adalah murid yang muttaqi, wara’, dan zuhud,serta seorang panglima dan penentang bangsa tartar yang berani. Selain itu ia dikenal sebagai seorang muhadis, mufassir, faqih, teolog, bahkan memiliki pengetahuan tentang filsafat.

Masa hidup ibnu taimiyah berbarengan dengan kondisi dunia islam yang sedang mengalami disintegrasi, dislokasi sosial, dekadansi moral, dan akhlak. Kelahirannya terjadi lima tahun setelah baghdad di hancurkanpasukan Mongol, Hulagu Khan. Oleh sebab itu, dalam upayanya mempersatukan umat islam, mengalami banyak tantangan, bahkan ia harus wafat di dalam penjara.[4]

  1. Pemikiran Teori Imam Ahmad Bin Hanbal dan Ibnu Taimiyah.
    1. Pemikiran Teori Ibn Hanbal

1)      Tentang ayat-ayat mutasyabihat

Dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, Ibn Hanbal lebih suka menerapkan pendekatan lafdzi (tekstual) dari pada pendekatan ta’wil, terutama yang berkaitandengan sifat-sifat tuhan dan ayat-ayat mutasyabihat. Hal itu terbukti ketika ia ditanya tentang penafsiran ayat berikut.

الرحمن على العرش استوى (طه:5)

Artinya: “(yatiu) tuhan yang maha pemurah, yang bersemayam di atas arsy.”

Dalam hal ini Ibn Hanbal menjawab: “Istiwa di atas arasy terserah pada Allah dan bagaimana saja dia  khendaki dengan tiada batas dan tida seorang pun yang sanggup menyifatinya.”

Dari pernyataan diatas, Tampak bahwa Ibn Hanbal bersikap menyerahkan (tafwid) makna-makna ayat dan hadits mutasyabihat kepada Allah Rasul-Nya dan mensucikan-Nya dari dari keserupaan dengan makhluk. Ia sama sekali tidak mena’wilkan pengertian lahirnya.

2)      Tentang Status Al-Qur’an

Salah satu persoalan teologis yang dihadapi Ibn Hanbal, yang kemudian membuatnya di penjarakan beberapa kali, adalah tentang status Al-Qur’an, apakah diciptakan (makhluk) yang karenanya hadis (baru) ataukah tidak diciptakan yang karenanya Qadim? Faham yang diakui pemerintah, yakni dinasty  abbasiyah di bawah kepemimpinan khalifah Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim dan Al-watsiq, adalah faham Mu’tazilah, yakni Al-Qur’an tidak bersifat Qadim.

  1. Pemikiran Teori Ibn Taimiyah

Pikiran-pikaran Ibn Taimiyah seperti yang dikatakan oleh Ibrahim Madzkur, adalah sebagai berikut:

a)    Sangat berpegang teguh pada nas (teks Al-Qur’an dan Al-Hadits)

b)   Tidak memberikan ruang yang bebas pada akal.

c)    Berpendapat bahwa Al-Qur’an mengandung semua ilmu agama.

d)   Di dalam islam yang diteladani hanya tiga generasi saja. (sahabat, Tabi’in, dan Tabi’I tabi’in)

e)    Allah tidak memiliki sifat yang tidak bertentangan dengan tauhid dan tetap mentanzihkan-      Nya.

1)      Pandangan  Ibn Taimiyah Tentang sifat-sifat Allah

Percaya sepenuh hati terhadap sifat-sifat Allah yang ia sendiri atau Rasul-Nya menyifati. Sifat-sifat yang dimaksud adalah:

a)        Sifat Salbiyah, yaitu Qadim, Baqa’, mukhalafah li al-hawadis, qiyamuhu bi nafsih, dan wahdaniyah.

b)        Sifat ma’ani, yaitu Qudrah, iradah, sama, basar, hayat, ‘ilm, dan Kalam

c)        Sifat Khabariyah, yaitu (sifat-sifat yang diterangkan dalam Al-Qur’an walaupun akal  bertanya-tanya tentang maknanya), seperti keterangan yang menyatakan bahawa Allah di langit; Allah di atas arasy; Allah turun kelangit dunia; Allah dilihat oleh orang beriman disurga kelak; Wajah, tangan mata Allah.[5]

Berdasarkan alasan diatas,Ibn Taimiyah tidak menyetujuipenafsiran ayat-ayat mutasyabihat. Menurutnya, ayat atau hadits yang menyangkut sifat Allah harus diterima dan diartikan sebagaimana adanya, dengan catatan tidak men-tajsimkan tidak menyerupai-Nya dengan makhluk, dan tidak bertanya tentang-Nya.

Ibn Taimiyah mengakui tiga hal dalam masalah keterpaksaan dan ikhtiar manusia, yaitu: Allah tidak meridhai perbuatan baik dan tidak meridhai perbuatan buruk. Pencipta segala bentuk hamba pelaku perbuatan yang sebenarnya dan mempunyai kemauan serta kehendak secara sempurna, sehingga manusia bertanggung jawab atas perbuatannya.

Dikatakan oleh watt bahwa pemikiran Ibn Taimiyah mencapai klimaksnya dalam sosiologi politik yang mempunyai dasar teilog. Masalah pokoknya terletak pada upayanya membedakan manusia dengan tuhannya yang mutlak. Oleh sebab itu, masalah tuhan, katanya tidak dapat diperoleh dengan metode rasional, baik dengan metode filsafat maupun teologi. Juga bahwa keinginan mistis manusia untuk menyatukan tuhan adalah suatu yang mustahil. Oleh karena itu Ibn taimiyah sangat tidak suka pada aliran filsafat yang mengatakan al-Qur’an berisi dalil Khitabi dan Iqna’i (penerang dan pemuas hati).

Ibn Hanbali menyerahkan (tafwid) makna-makna ayat dan hadits mutasyabihat kepada Allah dan Rasulnya. Sedangkan Ibn Taimiyah tidak menyetujui penafsiran ayat-ayat mutasyabihat.

  1. Al-Khalaf

Kata khalaf biasanya digunakan untuk merujuk para ulama yang lahir setelah abad III H dengan karakteristik yang bertolak belakang dengan apa yang dimiliki salaf.

Suatu golongan dari ummat Islam yang mengambil fislafat sebagai patokan amalan agama dan mereka ini meninggalkan jalannya as-salaf dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits. Awal mula timbulnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak diketahui secara pasti kapan dan dimana munculnya karena sesungguhnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mulai depopulerkan oleh para ulama salaf ketika semakin mewabahnya berbagai bid’ah dikalangan ummat Islam.

Tokoh-tokoh ulama khalaf antara lain :

  1. 1.      Al-Maturidi
    1. Riwayat Singkat

Beliau dilahirkan di Maturid. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, hanya diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-3 Hijriyah. Ia wafat pada tahun 333 H/944 M.

  1. Doktrin-doktrin Teologi Al-Maturidi

a)      Akal dan Wahyu

Al-Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal ada tiga macam, yaitu :

  1. Akal dengan sendirinya hanya mengetahiu kebaikan sesuatu itu
  2. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui keburukan sesuatu itu.
  3. Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali dengan petunjuk ajaran wahyu.

b)      Perbuatan Manusia

c)      Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan

d)     Sifat Tuhan

e)      Melihat Tuhan

f)       Kalam Tuhan

g)      Perbuatan Manusia

h)      Pengutusan Rasul

i)        Pelaku Dosa Besar.

Ajaran-ajaran di Masa Khalaf

Ajaran yang ada saat masa Khalaf antara lain Mu’tazilah, Ahlussunnah wal jama’ah (Imam Asy’ary).

  1. 1.      Mu’tazilah
  2. Abu Hasan Al-Asy’ari (AHL AL-SUNNAH-AL-KHALAF)
    1. a.      Asy’ari dan Latar Belakang Lahirnya Asy’ariyah.

    Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Bardah bin Abi Musa al-Asy’ari (260-324 H) dianggap sebagai pendiri alirah Asy’ariyah. Lahir di Bashrah, dan sampai usia 40 tahun dia masih merupakan seorang penganut kalam Mu’tazilah. Dia sering menggantikan gurunya dalam mengajar. Tetapi dalam usia kematangan berpikir seseorang, dia mengalami konversi. Dia meninggalkan paham Mu’tazilah yang dianutyna bepuluh-puluh tahun, dan berbalik menyerangnya dengan alat yang digunakan aliran itu sendiri, dan sekaligus menetapkan paham baru yang dianutnya. Paham ini kemudian diikuti banyak orang sehingga lahirlah Asy’ariyah sebagai salah satu aliran kalam dalam Islam.

    Mengenai sebab-sebab konversi akidah yang dialami oleh Asy’ari ada berbagai versi riwayat. Jalal Musa, seorang analisis kontemporer mengenai masalah ini, menjelaskan sebab intrinsik berupa pergolakan spiritual Asy’ari sendiri. Di bidang kalam, di seorang Mu’tazilah dan berguru dengan al-Juba’i; sedangkan di bidang fikih, dia bermazhab Syafi’i dan berguru dengan Abu Ishaq al-Marwazi (w. 340 H), seorang tokoh mazhab Syafi’i di Irak. Dari kedua sisi kehidupan intelektualnya ini, Asy’ari melihat adanya dua kubu yang memilah-milah umat dengan kekuatannya masing-masing, yaitu kubu ulama kalam dengan kekuatan metode rasionalnya, dan kubu ulama fikih dan hadis dengan kekuatan metode tekstualnya. Kekuatan dua kubu tersebut diketahuinya dan ia pun memilikinya. Karena itu timbulah keinginannya untuk menyatukan kedua kekuatan itu dalam suatu aliran, sehigga para ulama kedua kubu itu dapat diintegrasikan pula. Realisasi idenya ini dimulai dengan peristiwa konversi tersebut.[6]

    Terlepas dari berbagai analisis yang dikemukakan di atas, yang jelas dan merupakan fakta sejarah adalah bahwa Asy’ari keluar dari Mu’tazilah dan kemudian membentuk aliran baru, ketika Mu’tazilah sedang berada dalam fase kemunduran (kelemahan). Yaitu setelah al-Mutawakil membatalkannya sebagai mazhab resmi negara, yang selanjutnya diikuti oleh sikap khalifah berpihak kepada Ahmad bin Hanbal (tokoh ahli hadis/salaf), rival Mu’tazilah terbesar waktu itu. Dalam hal ini, Asy’ari menegaskan dirinya sebagai pengikut Ahmad bin Hanbal, tokoh salaf yang disebutnya sebagai Ahl al-Sunnah

  1. b.      Pemikiran Kalam Asy’ari

Sebagai orang yang pernah menganut faham Mu’tazilah, Asy’ari tidak dapat memisahkan diri dari pemakaian akal atau argumentasi rasional. Ia menentang orang-orang yang mengatakan bahwa pemakaian akal pikiran dalam soal agama dianggap suatu kesalahan. Sebaliknya, ia juga mengingkari orang-orang yang berlebihan dalam menghargai akal pikiran semata sebagaimana aliran Mu’tazilah.

Diantara pemikiran Asy’ari dapat dikemukakan sebagai berikut:

1)      Sifat Tuhan

Menurut Asy’ari, Tuhan mempunyai sifat. Tuhan tidak mungkin mengetahui dengan zat-Nya, karena dengan demikian berarti zat-Nya adalah pengetahuan dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Sedangkan Tuhan bukanlah pengetahuan (‘ilm), melainkan Yang Mahamengetahui (al-‘Alim). Selanjutnya ia tegaskan, Tuhan mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan-Nya bukanlah zat-Nya. Demikian pula dengan sifat-sifat seperti sifat hidup, berkuasa, mendengar, melihat dan sebagainya. Dengan demikian jelaslah bahwa pemikiran Asy’ari tentang sifat Tuhan ini beberlainan dengan paham Mu’tazilah yang pernah ia anut. Bila Tuhan mempunyai sifat, persoalan yang muncul adalah apakah sifat-sifat Tuhan itu kekal sehingga menimbulkan paham banyak yang kekal (ta’addud al-qudama’)—sebagai yang dikhawatirkan oleh Mu’tazilah—membawa kepada paham kemusyrikan. Dalam kaitan ini, Asy’ari mengatasinya dengan mengatakan bahwa sifat-sifat itu bukanlah Tuhan, tetapi tidak pula lain dari Tuhan. Karena sifat-sifat itu tidak lain dari Tuhan, adanya sifat-sifat tersebut tidak membawa kepada paham banyak yang kekal.

2)      Kekuasaan Tuhan dan Perbuatan Manusia.

Tentang kekuasaan Tuhan, Asy’ari berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak, kemutlakan kekuasaannya tidak tunduk dan terikat kepada siapa dan apa pun. Tuhan dapat berkehendak menurut apa yang dikehendaki-Nya. Dengan paham kekuasaan mutlak di tersebut, Asy’ari menolak paham keadilan Tuhan yang dibawakan oleh Mu’tazilah. Bila menurut paham keadilan, Tuhan wajib memberikan pahala (balasan baik) kepada orang yang berbuat baik dan hukuman bagi orang pelaku dosa, maka menurut Asy’ari tidak demikian halnya. Bagi Asy’ari, Tuhan berkuasa mutlak, dan tak satu pun yang wajib bagi-Nya. Tuhan berbuat sekehendak-Nya, sehingga kalau Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam surga bukanlah Ia bersifat tidak adil, dan jika Ia masukkan seluruhnya ke dalam neraka tidak pula Ia bersifat zalim.

Mengenai perbuatan manusia, menurut Asy’ari bukanlah diwujudkan oleh manusia sebagaimana pendapat Mu’tazilah, tetapi diciptakan oleh Tuhan. Dalam hal ini Asy’ari mengemukakan alasan logika sebagaimana yang dikutip oleh Abdurrahman Badawi: Kita ketahui bahwa kufur itu adalah buruk, merusak, batil dan bertentangan, sedang perbuatan iman itu adalah bersifat baik, tapi berat dan sulit. Sebenarnya orang kafir ingin dan berusaha agar perbuatan kafir itu baik dan benar, tetapi hal itu tidak dapat ia wujudkan. Sebaliknya, orang mukmin menginginkan agar perbuatan iman itu tidak berat dan sulit, tetapi hal itu tidak dapat pula ia wujudkan. Dari argumen logika ini tampaknya manusia—menurut Asy’ari—tidak memiliki daya (qudrat atau istitha’ah) yang efektif untuk mewujudkan kehendak ke dalam bentuk perbuatan. Selanjutnya, ia katakan bahwa yang mewujudkan perbuatan kafir atau perbuatan iman bukanlah orang kafir atau mukmin itu sendiri yang memang tak sanggup membuat kufr itu bersifat baik/benar dan membuat perbuatan iman itu menjadi mudah dan tidak sulit. Jadi, pencipta perbuatan kafir dan iman yang sebenarnya (hakiki) dalam hal ini adalah Tuhan yang memang menghendaki hal yang demikian.

Dari gambaran di atas dapat diketahui bahwa untuk mewujudkan perbuatan bagi manusia diperlukan adanya kehendak (al-masyi’ah) dan daya (qudarah atau al-istitha’ah). Dalam hal ini terdapat dua daya, yakni daya manusia yang digerakkan (tidak efektif) dan daya Tuhan, Penggerak (efektif). Mengingat daya yang efektif adalah daya Tuhan, maka sebenarnya perbuatan yang terjadi pun adalah perbuatan Tuhan, sedang manusia dalam hl ini hanya memperoleh perbuatan. Inilah agaknya yang dimaksud dengan “kasb” menurut pandangan Asy’ari. Atau dengan perkataan lain, kasb adalah ketergantungan daya dan kehendak manusia kepada perbuatan yang ditentukan dan diciptakan oleh Tuhan sebagai pelaku hakiki. Dengan demikian manusia tidak mempunyai kebebasan dan kekuatan mewujudkan perbuatannya. Oleh karena itu, setidaknya dari sudut ketidakmampuan manusia dalam berbuat ini, Asy’ari lebih dekat dengan faham Jabariah.

3)      Keadilan Tuhan.

Berbeda dengan paham keadilan Tuhan menurut Mu’tazilah yang jelas bertentangan dengan doktrin kekuasaan mutlak Tuhan dalam pandangan Asy’ari, paham keadilan Tuhan menurut Asy’ari tidak bertentangan dan atau mengurangi kekuasaan mutlak Tuhan. Sebaliknya, bahkan paham keadilan Tuhan merupakan manifestasi dari kehendak mutlak Tuhan. Tuhan sebagai pemilik sebenarnya (al-Mulk) dapat berkuasa sepenuhnya sesuai dengan apa yang Ia kehendaki. Jadi keadilan yang dimaksud di sini adalah menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya sesuai dengan kehendak pemiliknya. Kalau Tuhan berbuat sesuatu dalam pandangan manusia itu adalah salah, bukan berarti itu dianggap salah, dan tidak dapat dikatakan Tuhan tidak adil, karena Tuhan dapat berbuat apa saja yang Ia kehendaki.

4)      Melihat Tuhan di akhirat.

Menurut Asy’ari, Tuhan dapat dilihat oleh manusia di akhirat kelak. Dalil yang ia kemukakan untuk ini, antara lain adalah QS. Al-Qiyamah ayat 32-33. Pengertian al-nazhr dalam ayat tersebut bukanlah i’tibar (memikirkan) atau al-intizhar (menunggu) seperti yang terdapat dalam QS. 88: 17 dan 36: 49, melainkan berarti melihat dengan mata.

Selain dalil berupa ayat al-Quran, Asy’ari juga mengemukakan alasan logika. Menurutnya, sifat-sifat yang tidak dapat diberikan kepada Tuhan hanyalah sifat-sifat yang membawa kepada arti Tuhan itu diciptakan. Sedangkan sifat “Tuhan dapat dilihat” tidak membawa kepada hal yang demikian, karena apa yang dilihat tidak mesti mengandung arti bahwa ia mesti bersifat diciptakan. Sehubungan dengan pandangannya ini, Asy’ari mengartikan QS. al-An’am ayat 103—la tudrikhu al-abshar wa huwa yudrik al-abshar—dengan mengatakan bahwa ayat ini menjelaskan keadaan orang kafir sebagai suatu siksaan, yakni orang kafirlah yang di akhirat nanti tidak dapat malihat Tuhan.

5)      Anthropomorphisme (tajassum).

Berlainan dengan Mu’tazilah, Asy’ari berpandangan bahwa Tuhan punya wajah, tangan, mata dan yang semisal dengannya, karena hal ini sesuai dengan penegasan ayat al-Quran. Misalnya: QS. al-Rahman ayat 37, al-Maidah ayat 67 dan al-Qamar ayat 14. Adapun tentang bagaimana bentuk dan ukuran wajah, tangan, mata dan yang semisal itu, dalam hal ini Asy’ari hanya mengatakan “bila kaifa atau la yukayyaf wala yuhad” (tidak ditentukan bagaimana bentuk dan ukurannya). Bagi Asy’ari, masalah ini tanpaknya dipandang sebagai persoalan yang berada di luar batas kemampuan akal manusia.

6)      Al-Quran (Kalamullah).

Menurut pendapat Asy’ari, al-Quran bukan makhluk sebagaimana pendapat Mu’tazilah. Bila al-Quran diciptakan, kata Asy’ari, berarti ia butuh kepada kata ‘kun’ (jadilah), karena untuk menciptakan itu diperlukan adanya kata ‘kun’ sesuai dengan firman Allah: innama qawluna li syai’ idza aradnahu an naqula lahu kun fayakun. Sedangkan untuk penciptaan kata ‘kun’ tentu perlu pula kata ‘kun’ yang lain, dan begitu seterusnya sehingga terjadi rentetan kata-kata ‘kun’ yang tidak berkesudahan. Hal yang demikian ini, menurut pandangan Asy’ari adalah tidak mungkin. Oleh karena itu, Asy’ari berpandangan bahwa al-Quran itu tidak diciptakan.

7)      Pelaku dosa dan konsep iman.

Bagi Asy’ari, orang yang berdosa besar adalah tetap mukmin, karena imannya masih ada, tetapi karena dosa besar yang dilakukannya ia menjadi fasiq. Alasannya adalah sekiranya orang berdosa besar bukan mukmin dan bukan pula kafir (posisi tengah atau menempati antara keduanya), maka di dalam dirinya tidak didapati kufr atau iman. Dengan demikian, ia bukan ateis dan bukan pula teis (bertuhan), dan hal demikian ini tidak mungkin. Oleh karena itu, Asy’ari menolak konsep al-manzilah bain al-manzilatain Mu’tazilah karena tidak mungkin orang yang berbuat dosa besar itu tidak mukmin dan tidak pula kafir.

Sejalan dengan pemikirannya tadi, Asy’ari tidak memandang amal perbuatan sebagai unsur esensial (ushul) dari iman. Perbuatan tidaklah berpengaruh langsung terhadap iman, dalam arti tidak dapat menghilangkan iman seseorang, meski yang dilakukannya itu adalah dosa besar. Hanya saja, akibat dosa besar yang dilakukannya ia menjadi fasiq. Dengan demikian, batasan iman menurut Ay’ari adalah tashdiq bi Allah—maksudnya, unsur esensialnya iman.

8)      Pengiriman utusan Allah atau rasul.

Berangkat dari pengakuan kekuasaan mutlak Tuhan, Asy’ari memandang bahwa Tuhan tidak memiliki kewajiban mengutus rasul kepada umat manusia, meski pengutusannya itu memiliki arti penting bagi kemaslahatan umat manusia. Semuanya itu dilakukan oleh Tuhan lebih berdasarkan kepada kehendak mutlak-Nya.

9)      Janji dan ancaman.

Sebagaimana pendapat tentang pengiriman rasul yang lebih didasarkan kepada kehendak mutlak Tuhan, pandangan Asy’ari tentang janji dan ancaman juga berlandaskan kepada paham adanya kehendak mutlak Tuhan itu. Tidak wajib bagi Tuhan untuk memberikan pahala (balasan baik) bagi orang yang berbuat baik dan tidak wajib pula bagi-Nya memberikan hukuman siksaan terhadap orang yang melakukan perbuatan jahat. Oleh karena itu, Asy’ari menentang ajaran janji dan ancaman yang dianut oleh kaum Mu’tazilah.[7]

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Mayoritas ummat Islam di seluruh dunia adalah pengikut sunni atau ahlussunnah. Menurut Maulana Abu Said Al-Kadimy Ahlussunnah adalah orang-orang yang pengikut sunnah Rasulallah. Artinya berpegang teguh dengannya.

Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Bardah bin Abi Musa al-Asy’ari (260-324 H) dianggap sebagai pendiri alirah Asy’ariyah.

Diantara pemikiran Asy’ari dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Sifat Tuhan
  2. Kekuasaan Tuhan dan Perbuatan Manusia.
  3. Keadilan Tuhan.
  4. Melihat Tuhan di akhirat.
  5. Anthropomorphisme (tajassum).
  6. Al-Quran (Kalamullah).Pelaku dosa dan konsep iman.
  7. Pengiriman utusan Allah atau rasul.
  8. Janji dan ancaman.

2. Saran

Dalam pembuatan makalah ini apabila ada keterangan yang kurang bisa dipahami, penulis mohon maaf yng sebesar-besarnya dan penulis sangat brterimakasih apabila ada saran/kritik yang bersifat membangun sebagai penyempurna makalah ini.


[1] Eka putra wirman.kkuatan Ahlulsunnah.(Jakarta:hak cipta,2010)hal 23

[2] Harun Nasution, Teologi Islam (Jakarta:UI-Press, 2010)hal.62-64

[3] Zainuddin,ilmu tauhid lengkap,(jakarta;rineka cipta 2008)hal43-44

[4] Ibid hal31-44

[5] Hanafi, pengantar teologi islam(jakarta;pustaka alhusna,1992)hlm138-139

[6] Yahya Jaya, Teologi Agama Islam Klasik (Padang : Angkasa Raya) hal.125-127

[7] Ibid hal54-80

DAFTAR PUSTAKA

Eka putra wirman, Kekuatan Ahlulsunnah (Jakarta:Hak cipta,2010)

Zainuddin,  Ilmu Tauhid Lengkap (jakarta:Rineka Cipta 2008)

Hanafi, Pengantar Teologi Islam (jakarta:Pustaka Alhusna,1992)

Harun Nasution, Teologi Islam (Jakarta:UI-Press, 2010)

Yahya Jaya, Teologi Agama Islam Klasik (Padang : Angkasa Raya)

Pos ini dipublikasikan di RELIGI dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s