ISTILAH-ISTILAH TENTANG ORANG YANG TERPELAJAR/CERDAS DALAMAL-QUR’AN


ISTILAH-ISTILAH TENTANG ORANG YANG TERPELAJAR/CERDAS DALAMAL-QUR’AN

rasyid/rusyd, ulil albab, ulil abshar, alim/alimun/ulama, ya’qilun, yatafakkarun,yafqahun”

                                    Oleh kelompok VII :

  1. ANNISA NUR AULIA      :412.563
  2. YESSY AZWARNI            :412.635
  3. SHINTA EKA PUTRI        :412.
  4. WIRLI YURNIA S             :412.
  1. Pengantar

Makalah ini, yang merupakan bagian ketujuh dari rentetan diskusi kuliah tafsir, akan menyoroti penafsiran istilah-istilah tentang orang terpelajar dalam alquran : rasyid/rusyd  (Q.S al-baqarah : 284), ulil albab (Q.S ali-imran: 190), ulil abshar (Q.S yusuf :108), alim/alimun/ulama (Q.S AL-mujadalah : 11), ya’qilun (Q.S ra’ad : 4), yataffakarun (Q.S ali imran : 191), yafqahun (Q.S An-nisa’ : 78).

Sistematika penulisan dan analisis makalah ini terdiri dari dua tahap, yakni menyoroti kajian pembahasan ayat oleh kedua muffasir, dan kedua menyoroti kandungan makna atau maksud ayat yang dikemukakan kedua muffasir berdasarkan kajian kebahasan tersebut.

  1. Pembahasan
  1. RASYID/RUSYD

Kata Ar-Rasyid tersusun atas huruf “ Ra’, Syin Dan Dal” yang makna dasarnya adalah ketepatan dan lurusnya jalan. Dari makna ini lahirlah kata”Rusyd” atau manusia yang sempurna akal dan jiwanya. Dengan kesempurnaan ini, ia mampu bertindak dan bersikap secara tepat. Susunan huruf ini melahirkan pula kata mursyid yang artinya memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat.

Kata rasyid bermakna pula kekuatan dan keteguhan. Rasyadah bearti batu karang. Suatu benda yang menunjukan kekuatan dan keteguhan. Karena Allah memiliki sifat Rasyid maka semua tindakan Allah pasti tepat, cermat, dan tidak akan  meleset. Ketentuan Allah tidak akan terlambat dan tidak pula terlalu cepat, Tidak kebesaran dan tidak pula kekecilan, tidak kelebihan dan tidak pula kekeringan. Allah akan memberikan balasan yang tepat dan sebanding dengan kapasitas amal yang dilakukannya.

Q.S Al-baqarah : 216

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Penafsiran ayat

Ayat ini tidak mengatakan kadar kebaikan,  tetapi dalam ayat lain dijelaskan bahwa kebaikannya banyak sekali.[1]

  1. ULIL ALBAB

Sesuatu yang amat agung dari petunjuk Alquran, berkenaan dengan visi pemikiran dan ilmu pengetahuan, adalah bahwa Alquran member penghargaan terhadap ulil albab dan kaum cendikiawan atau kaum intelektual. Allah memuji mereka dalam banyak ayat dalam surat-surat makiyah dan madaniyah. Ulil Albab adalah gulungan yang diistimewakan dan yang disebut Allah di dalam AlQuraan. Sebanyak 16 kali disebut di dalam AlQuraan. Ulil Albab menggunakan kurniaan akal untuk merenung setiap kejadian di alam semesta yang maha luas ini.[2]

Q.S Ali-imran : 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (ali imran : 190)

Penafsiran ayat

Kelompok ayat ini merupakan penutup surat ali imran yang merupakan salah satu bukti kebenaran yaitu mengundang manusia untuk berfikir, karena “sesungguhnya dalam penciptaan” yakni kejadian benda-benda angkasa seperti matahari,bulan dan jutaan gugusan bintang-bintang yang terdapat di “langit” atau dalam pengaturan system kerja langit yang sangat teliti serta kejadian “dan”  perputaran “bumi” dan porosnya, yang melahirkan “silih bergantinya malam”  dan “siang” perbedaannya baik dalam masa maupun dalam panjang dan pendeknya “terdapat tanda-tanda”  kemahakuasaan Allah “bagi ulul albab”, yakni orang yang memiliki akal yang murni.

Kata () al-albab adalah bentuk jama’ dari (لب) lubb yaitusaripati sesuatu. Ulul albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni yang tidak diselubungi “kulit”, yakni kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan dalam berfikir  yang merenungkan tentang fenomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan kekuasaan Allah swt.

Rasulullah saw seringkali membaca ayat ini dan ayat-ayat berikutnya kalau beliaubangun shalat tahajud di malam hari. Imam bukhari meriwayatkan melalui ibn abbas yang berkata bahwa suatu malam aku tidur dirumah bibiku maimunah. Rasul saw berbincang dengan keluarga beliau beberapa saat, kemudian pada sepertiga malam terakhir beliau bangkit dari pembaringan dan duduk memandang kelangit sambil membaca ayat ini. Lalu beliau berwudhu’ dan shalat sebelas rakaat. Kemudian bilal azan subuh, maka beliau shalat dua rakaat, lalu menuju ke mesjid untuk mengimami jamaah shalat subuh.

Ibu mardawaih juga meriwayatkan melalui atha’ bahwa suatu ketika dia bersama beberapa rekannya mengunjungi istri rasulullah, Aisyah ra., untuk bertanya tentang peristiwa apa yang paling mengesankan beliau dari rasul saw. aisyah menangis sambil berkata :” semua yang beliau lakukan mengesankan.” (kalau menyebut satu, maka satu malam) yakni dimalam giliranku beliau tidur berdampingan denganku, kulitnya menyentuh kulitku, lalu beliau bersabda :”wahai Aisyah, izinkanlah aku beribadah kepada tuhanku.” Aku berkata-jawab Aisyah :”demi Allah, aku senang berada disampingmu, tetapi aku senang juga engkau beribadah kepada tuhanmu.”, maka beliau pergi berwudhu’, tidak banyak air yang beliau gunakan, lalu berdiri melaksanakan shalat dan menangis hingga membasahi jenggot beliau, lalu sujud dan menangis hingga membasahi lantai, lalu berbaring dan menangis, setelah itu bilal datang untuk azan shalat shubuh.”kata Aisyah lebih lanjut,”bilal bertanya kepada rasul, apa yang menjadikan beliau menangis, sedang Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yangakan datang?”. Rasul saw. menjawab :”aduhai bilal apa yang dapat membendung tangisku padahal semalam Allah telah menurunkan kepadaku ayat :” inna fi khalq as-samawi…….., “  sungguh celaka siapa yang membaca  tapi tidak memikirkannya.[3]

  1. ULIL ABSHAR

Al-bashar, yang berarti indra penglihatan, juga berarti ilmu. Di dalam Kamus Lisan al Arab, Ibn Manzhur mengemukakan bahwa ada pendapat yang mengatakan ; al-bashirah memiliki ma’na sama dengan al-fithnah (kecerdasan) dan al-hujjah(argumntasi)Al-Jurjani mendefinisikan al-Bashirah, adalah suatu kekuatan hati yang diberi cahaya kesucian, sehingga dapat melihat  hakikat sesuatu dari batinnya. Para ahli hikmah menamakannya dengan ; al-’aqilah an-nazhariyyah wa alquwwah al-qudsiyyah  (kecerdasan bepikir dan kekuatan  suci atau ilahi).Abu Hilal al-’Askarimembedakan antara al-bashirah dan al-’ilm (ilmu), bahwa al-bashirah adalah kesempurnaan ilmu dan pengetahuan.

            Q.S Ali imran : 13

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur) Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.

 Penafsiran ayat

Dua golongan yang telah bertemu, yaitu bertempur dibadar pada tahun ke-2 hijriah. Yang pertama, segolongan mukmin berperang di jalan Allah dan segolongan yang lain kafir berperang dijalan syaitan.

Kata mukmin tidak ditemukan dalam redaksi ayat karena ada kata berperang dijalan Allah. siapa yang berpereng dijalan Allah pastilah dia mukmin, dan juga mereka perangi adalah orang kafir.  Mereka melihat ddengan penglihatan mata sebanyak dua kali jumlah mereka, ada yang memahami ayat ini dalam arti orang-orang musyrik melihat orang-orang mukminsebanyak dua kali lipat jumlah mereka, yakni jumlah orang-orang musyrik. Ini bearti bahwa orang musyrik melihat orang-orang muslim sebanyak 2.000 orang, karena sejarah menginformasikan bahwa jumlah pasukan musyrik dalam perang badar sekitar 1.000 orang.

Ada juga yang berpendapat bahwa orang-orang muslim melihat jumlah kaum musyrikin sebanyak dua kali lipat jumlah kaum muslimin. Memang ketika itu, kaum muslimin berjumlah 313 orang, sehingga wajar jika kaum muslimin melihat dan menyadari bahwa kaum musyrikin yang mereka hadapi adalah berlipat ganda dari jumlah kaum muslimin. Pendapat ini didukung oleh redaksi ayat yang secara tegas menyatakan dengan penglihatan mata.

Benar, bahwa jumlah kaum musyrikin tiga kali lipat jumlah kaum muslimin, tetapi ayat ini berbicara secara umum berdasarkan dugaan dan perkiraan kaum muslimin, bukan informasi dari Allah bahwa jumlah mereka dua kali lipat.

Allah menguatkan dengan bantuan-NYA siap yang dikehendaki-NYA. Jika anda memilih pendapat pertama, maka penggalan ini bearti bantuan dari Allah kepada kaum muslimin, antara lain adalah apa yang dilakukan-NYA terhadap orang-orang musyrik sehingga mereka melihat jumlah kaum muslimin lebih banyak dari kaum mereka, sehingga semangat orang-orang musyrik itu kendor dan merosot.

Siapa yang dikehendaki-NYA, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pandangan. Istilah yang dipakai ayat tersebut adalah (                    )  “uli al-abshar”, atau orang-orang yang mempunyai pandangan. Pandangan yang dimaksud adlah pandangan mata, bukan mata hati, karena yang mereka lihat adalah suatu kenyataan di lapangan. Apalagi ayat itu tidak menyatakan  (                            ) ulil absha’ir, orang-orang yang mempunyai pandangan hati.

Paling tidak ada tiga kata yang digunakan al-qur’an untuk menunjukkan pandangan mata manusia. Pertama, (         ) nazhar yakni melihat bentuk dan gambaran sesuatu. Kedua, (           ) bashar yakni melihat dengan mengetahui seluk beluk serta rincian yang bersifat indrawi dari apa yang dilihat. Dan yang ketiga adalah  (        ) ra’a yakni melihat disertai dengan mengetahui secara mendalam atas hakikat sesuatu.

Apa yang terjadi dalam perang badar dan yang mereka saksikan dengan mata kepala, sungguh menjadi pelajaran bagi yang memiliki pandangan mata kepala yang mampu mengantar kepada pengetahuan seluk beluk sesuatu. Bagaimana peristiwa itu tidak menjadi pelajaran? Jumlah pasukan muslim sangat kecil, peralatan merekapun terbatas, apalagi tanpa persiapanperang, serta tanpa pengalaman pula (karena perang badar merupakan perang pertama umat muslim). Mereka itu menghadapi kelompok besar dan yang mempunyai peralatan yang lengkap., dan siap berperang, karena mereka dengan sengaja bertolak dari mekkah dan enggan kembali sebelum menghancurkan kaum muslimin, tetapi hasilnya sungguh di luar dugaan. Kemenangan gemilang justru diraih oleh kelompok kecil  yaitu kaum muslim.[4]

  1. ALIM/ALIMUN/ULAMA

Menurut terjemahannya, ulama (perkataan jamak-plural) berasal dari perkataan tunggalnya ‘alimun. Makna ‘alimun ialah seorang alim atau orang pandai. Maka ulama (ramai) artinya orang-orang alim. Boleh juga diartikan sebagai cendikiawan, ilmuan atau cerdik pandai.

      Jika berdasarkan bahasa semata-mata, siapa saja yang alim walau dalam bidang ilmu apapun, boleh dipanggil ulama. Tidak kira apa bidang mereka, seperti : politik, teknologi, pendidikan, pertanian malah di bidang yang tidak baik seperti pakar menipu pun boleh disebut ulama. Inilah hasilnya jika bersandar kepada makna bahasa semata-mata.

      Mungkin juga tidak salah bersandar kepada arti lahir ulama itu saja. Tetapi mari kita lihat apa yang dimaksudkan oleh Allah SWT berkenaan ulama, agar itulah ulama yang benar, yang membawa kebenaran dan boleh diikuti kebenarannya.

Q.S AL-fathir : 27-28

“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya danada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulamaSesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Penafsiran ayat

Kontenks ayat jelas menunjukan jelas menunjukan bahwa yang dimaksud dengan ulama disini adalah biologi,geologi,fisika dan kimia bahkan kedokteran,tekhnik dan astronomi. Kita telah mengikuti pendapat mereka dan mendengarkan pembicaraan mereka tentang Allah tabaraka wata’ala. Ternyata mereka menyebut zdat yang maha agung dan layak dipuji dan diagungkan serta satu-satunya yang layak disembah. “segala sesuatu mengandung ayat yang menunjukan adanya Tuhan Yang Mahaesa.”

Dalam iklim seperti inilah makna-makna al-qura’an muncul. Iman adalah buah akal yang cerdas dan kritis. Agama tidak lain adalah akal yang beriman dan hati yang mapan kepada Allah dan mengarah kepada-NYA. Umat islam telah memikul kebenaran-kebenaran agama dalam wilayah ini. Allah swt. Meminta mereka agar mempraktikkannya untuk seluruh manusia.[5]

  1. QAUM YA’QILUN

Term ya’qilun datang dengan redaksional fi’il mudhari’ untuk orang ketiga jamak ya’qilun, sebanyak dua puluh kali. Sedangkan, redaksi yang bersifat negative laa ya’qilun “mereka tidak berfikir” adalah sebagai cercaan terhadap mereka yang tidak menggunakan akal mereka yang dianugerahkan Allah. mereka bahkan menafikan akal tersebut sama sekali sehingga mereka bersifat statis, membeo, dan ingkar.[6]

Q.S AR-ra’ad : 4

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (Al-ra’ad : 4)

Penafsiran ayat

Untuk lebih menjelaskan apa yang diuraikan pada ayat yang lalu tentang kesabaran dan keesaan Allah. ayat ini melanjutkan bahwa dan di bumi tempat kamu semua memijakkan kaki dan menghirup udara, kamu berdekatan dan berdampingan namun demikian kualitasnya berbeda-beda. Ada yang tandus dan ada pula yang subur dan ada juga yang jenisnya sama yang ditumbuhi oleh tumbuhan yang berbeda. Ada yang menjadi lahan kebun-kebun anggur, dan tanaman-tanaman persawahan dan ada juga yang menjadi lahan bagi perkebunan pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang, semua kebun dan tumbuhan itu disirami dengan air yang sama lalu tumbuh dan berkembang dalam waktu tertentu. Namun demikian kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain dalam rasanya demikian juga dengan besar dan kecilnya, warna dan bentuknya serta perbedaan-perbedaan yang lain. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir.

Dalam tafsir al-munthakhab yang disusun oleh sekian pakar yang dikoordinir oleh kementrian wakaf mesir, ayat ini mereka pahami sebagai pengisyaratan adanya ilmu tentang tanah (geologi dan geofisika) dan ilmu lingkungan hidup (ekologi) serta pengaruhnya terhdap sifat tumbuh-tumbuhan. Secara ilmiah menurut meretka telah diketahui bahwa tanah persawahan terdiri atas butir-butir mineral yang beraneka ragam sumber, ukuran dan susunannya, air yang bersumber dari hujan, udara, zat organic yang berasal dari limbah tumbuh tumbuhan dan makhluk hidup lainnya yang ada diatas maupun di dalam lapisan tanah. Lebih dari itu, terdapat pula berjua-juta makhluk hidup yang amat halus yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, karena ukurannya sangat kecil.  Jumlahnya  pun bervariasi, berkisar antara puluhan juta sampai ratusan juta pada setiap satu gram tanah pertanian.[7]

  1. YATAFAKKARUN

Q.S Ali-Imran : 191

 “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Penafsiran ayat

Ayat ini dan ayat-ayat berikut menjelaskan sebagian dari ciri-ciri siapa yang dinamai ulul albab yang disebut pada ayat yang lalu. Mereka adalah orang-orang baik laki-laki maupun perempuan yang terus-menerus mengingat Allah, dengan ucapan , dan atau hati dalam seluruh situasi dan kondisi saat bekerja atau istirahat , sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, atau bagaimanapun mereka memikirkan tentang penciptaan, yakni kejadian dan system kerja langit dan bumi  dan setelah itu berkata sebagai kesimpulan : “tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan” alam raya dan segala isinya ini dengan sia-sia,  tanpa tujuan yang hak. Apa yang kami alami, atau lihat atau dengar dari keburukan atau kekurangan. Maha suci engkau dari semua itu. Itu adalah ulah atau dosa dan kekurangan kami yang dapat menjerumuskan kami ke dalam siksa neraka maka peliharalah kami dari siksa neraka. Karena tuhan kami, kami tahu dan yakin benar bahwa sesungguhnya siapa yang engkau masukkan kedalam neraka, maka sungguh telah engkau hinakan dia dengan mempermalukannya I hari kemudian sebagai seorang yang zalim serta menyiksanya dengan siksa yang pedih. Tidak ada satupun yang dapat membelanya dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim siapa pun satu penolong pun.

Di atas terlihat bahwa objek zikir adalah Allah berupa fenomena alam, ini bearti pengenalan Allah lebih banyak didasarkan kepada kalbu, sedang pengenalan alam raya oleh penggunaan akal, yakni berfikir. Akal memiliki kebebebasan seluas-luasnya untuk memikirkan fenomena alam, tetapi ia memiliki keterbatasan dalam memikirkan Dzat Allah, karena itu dapat difahami sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh abu nu’aim melalui ibn ‘abbas,”berfikirlah tentang makhluk Allah, dan jangan berfikir tentang Allah.”

Manusia yang membaca alam lembaran alam raya, niscaya akan mendapatkan-NYA. Sebelum manusia mengenal peradaban, mereka yang menempuh jalan ini telah menemukan jalan itu, walau nama yang disandangkan untuknya bermacam-macam, seperti Penggerak Pertama, Maha Mutlak, Pencipta Alam, Kehendak Mutlak, Yang Maha Kuasa, Allah Dan Sebagainya.

  1. YAFQAHUN

Q.S An-nisa : 78

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikanmereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).” Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraansedikitpun?

Penafsiran ayat

Dimana saja kamu berada,  wahai makhluk yang bernyawa yang taat maupun yang durhaka kematian; yakni malaikat yang bertugas mematikan kamu, akan mendapatkan kamu, yakni mengejar kamu dan akhirnya mencabut nyawa kamu, kendalipun kamu didalam benteng-benteng, yakni dalam satu benteng yang dilindungi oleh benteng lain dan yang tinggi lagi kokoh, atau yang berbuat dengan amat rapi sehingga tidak ada celah untuk menembusnya.

Selanjutnya ayat ini menambahkan ucapan mereka yang lain, sebagai kelanjutan ucapan mereka yang lain, sebagai kelanjutan ucapan mereka yang meminta agar kewajiban perang ditangguhkan atau dibatalkan, yaitu jika mereka memperoleh kebaikan, yakni sesuatu yang menggembirakan, mereka mengatakan,”ini dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa suatu bencana, yakni sesuatu yang tidak menyenangkan, mereka mengatakan, “ini dari sisi engkau  wahai Muhammad. Engkau penyebabnya karena kehadiranmu dan perintah-perintahmu yang tidak bijaksana atau karena kesialan yang menyertaimu.” Katakanlah,” semuanya bersumber dari sisi Allah dan atas izin-NYA. Karena ucapan dan perilaku meereka sangat aneh, maka ayat ini ditutup dengan menggambarkan keanehan itu dengan menyatakan dalam bentuk pertanyaan : maka mengapa orang-orang itu, yakni yang mengucapkan kata-kata itu, hamper-hampir tidak memahami pembicaraan, yakni penjelasan-penjelasan yang selama ini yeng telah disampaikan? Mengapa mereka tidak memahami sedikitpun?.

Allah menegaskan bahwa (                                          ) la yakaduna yafqahuna haditsan/ orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan. Terjemahan ini adalah atas dasar kata (  ) la’ tertuju pada kata(                ) yafqahuna/memahami. Gaya redaksi semacam ini dikenal dalam bahasa arab dengan tujuan menekankan penafian. Ada juga yang memahami penafian tertuju kepada (              )yaqaduna/hampir-hampir sesuai dengan harfiah teks, sehingga penutup ayat ini bearti :mereka itu tidak mendekati pemahaman pembicaraan, karena memang persoalan ini tidak dipahami secara baik kecuali oleh mereka yang benar cerdas, sedang mereka tidak demikian.[8]

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Kata Ar-Rasyid tersusun atas huruf “ Ra’, Syin Dan Dal” yang makna dasarnya adalah ketepatan dan lurusnya jalan. Dari makna ini lahirlah kata”Rusyd” atau manusia yang sempurna akal dan jiwanya. Dengan kesempurnaan ini, ia mampu bertindak dan bersikap secara tepat. Susunan huruf ini melahirkan pula kata mursyid yang artinya memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat. Sesuatu yang amat agung dari petunjuk Alquran, berkenaan dengan visi pemikiran dan ilmu pengetahuan, adalah bahwa Alquran member penghargaan terhadap ulil albab dan kaum cendikiawan atau kaum intelektual. Allah memuji mereka dalam banyak ayat dalam surat-surat makiyah dan madaniyah. Ulil Albab adalah gulungan yang diistimewakan dan yang disebut Allah di dalam AlQuraan, Ulul albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni.  Al-bashar, yang berarti indra penglihatan, juga berarti ilmu. Di dalam Kamus Lisan al Arab, Ibn Manzhur mengemukakan bahwa ada pendapat yang mengatakan ; al-bashirah memiliki ma’na sama dengan al-fithnah (kecerdasan) dan al-hujjah (argumntasi).

Menurut terjemahannya, ulama (perkataan jamak-plural) berasal dari perkataan tunggalnya ‘alimun. Makna ‘alimun ialah seorang alim atau orang pandai. Maka ulama (ramai) artinya orang-orang alim. Boleh juga diartikan sebagai cendikiawan, ilmuan atau cerdik pandai. Qaum ya’qilun adalah kelompok orang yang berfikir. Yatafakkarun adalah yaitu orang yang mengingat Allah. Allah menegaskan bahwa  la yakaduna yafqahuna haditsan/ orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan. Terjemahan ini adalah atas dasar kata  la’ tertuju pada kata yafqahuna/memahami.

  1. Saran

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan baik dalam penulisan maupun pengambilan referensi, dan oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan saran dari pembaca demi kesempurnaan penulisan makalah yang akan datang.

Penulis mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT. Serta terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses penulisan makalah ini.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 Shihab,Qurash.tafsir almisbah volume 6 dan 10.(Jakarta: Lentera Hati.2002)

Asy-syanqiti,syaikh. Adhwa’ul bayan tafsir alquran dengan alquran.(Jakarta:Pustaka Azzam.2006)

As sa’di,syaikh Abdurrahman bin nashir. Tafsir as-sa’di.(Jakarta:Tim Pustaka SAHIFA.1999)

Muhammad ghazali,syeikh.tafsir tematik dalam Al-qur’an.(Jakarta selatan:IKAPI.2005)

Qardhawi, yusuf.Alquran berbicara tentang akal dan ilmu pengetahuan.(Jakarta:gema insane press,1998)

Shihab, M. Quraish.tafsir al-misbah.(Jakarta:Lentera Hati,2002)


[1] Abdul aziz al-kindi,tafsir alquran dengan alquran,jilid 1,(Jakarta selatan:pustaka azzam,2006) hal 325

[2] Yusuf qardawi,alquran berbicara tentang akal dan ilmu pengetahuan.(JAKARTA:gema insane press,1998)hl29-30

[3] Quraish shihab, tafsir al-misbah. (Tangerang:Lentera Hati,2002) hal 306-308

[4] Quraish shihab.logcit.hal 22-25

[5] Syeikh Muhammad ghazali,tafsir tematik dalm Al-quran,(Jakarta:gaya media pratama,2005) hal 410-411

[6] Yusuf qardhawi.opcit.hal 24

[7] Quraish shihab. Volume 6.tafsir al-mishbah,(Jakarta: Lentera Hati,2002) hal 554-555

[8] Quraish shihab,opcit.hal 517-520

Pos ini dipublikasikan di PENDIDIKAN, RELIGI dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s