MAKALAH PSIKOLOGI PEKEMBANGAN PESERTA DIDIK Tentang PERKEMBANGAN PADA MASA DEWASA MADYA


MAKALAH

PSIKOLOGI PEKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Tentang

PERKEMBANGAN PADA MASA DEWASA MADYA

Lambang IAIN Bagus

BAB I

PEMBAHASAN

A. Pengertian Dewasa Pertengahan (Madya)

Dalam Buku Human Development (Psikologi Perkembangan) Bagian V s/d IX mendefinisikan masa dewasa pertengahan dalam terminologi kronologis, yaitu tahun-tahun antara usia 45-65 tahun. Akan tetapi definisi ini bisa saja berubah. Paruh bay juga dapat didefinisikan secara kontekstual, dan dua definisi tersebut akan berbeda satu dengan yang lain. Salah satu konteksnya adalah keluarga: sosok paruh baya terkadang dideskripsikan sebagai seseorang dengan anak yang sedang tumbuh dan/ atau dengan orang tua yang sudah sepuh.
Usia pertengahan di penuhi oleh tanggung jawab berat dan berbagai peran yang menyita waktu dan energi. Tanggung jawab dan peran yang dirasa mampu di tanggung oleh sebagian orang dewasa seperti menjalankan rumah tangga, departemen, atau perusahaan; memiliki anak; dan mungkin merawat orang tua yang sudah uzur atau memulaikarier baru.
Masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya memasuki suatu periode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan perilaku yang baru. Tahun – tahun ini merupakan masa puncak dimana kondisi kesejahteraan psikologis, kesehatan, produktivitas, dan keterlibatan dalam masyarakat sangat optimal. Masa-masa ini juga seringkali merupakan waktu untuk melakukan refleksi dan peninjauan kembali. Orang melihat kembali hal-hal yang telah mereka capai, merinci hal-hal yang mereka sesali atau sisa hidup mereka. Dan juga saat krisis terjadi, hal ini terjadi karena alasan yang tidak berhubungan dengan bertambahnya usia,melainkan karena kejadian-kejadian spesifik yang mengubah hidup seseorang, misalnya terjangkit penyakit atau kehilangan pekerjaan atau pasangan.
Pada masa ini, ada aspek-aspek tertentu yang berkembang secara normal, aspek-aspek lainnya berjalan lambat atau berhenti. Bahkan ada aspek-aspek yang mulai menunjukkan terjadinya kemunduran-kemunduran. Aspek-aspek jasmaniah lamban,berhenti dan secara berangsur menurun. Aspek-aspek psikis (intelektual–social–emosional–nilai) masih terus berkembang,walaupun tidak dalam bentuk penambahan atau peningkatan kemampuan tetapi berupa perluasan dan pematangan kualitas. Pada akhir dewasa madya (sekitar usia 40 tahun) kekuatan aspek-aspek psikis inipun secara berangsur ada yang mulai menurun,dan penurunannya cukup drastic pada akhir usia dewasa.

B. Ciri-ciri Masa Dewasa Madya

1. Usia Madya Merupakan Periode yang Sangat Ditakuti

Diakui bahwa semakin mendekati usia tua, periode usia madya semakin lebih terasa menakutkan. Pria dan wanita banyak mempunyai alasan untuk takut memasuki usia madya. Diantaranya adalah : banyaknya stereotip yang tidak menyenangkan tentang usia madya. Yaitu : kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan fisik yang diduga disertai dengan berhentinya reproduksi.

2. Usia madya merupakan masa transisi

Usia ini merupakan masa transisi seperti halnya masa puber, yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masanya dan memasuki periode dalam kehidupan yang akan diliputi oleh ciri-ciri jasmani dan perilaku baru.

3. Usia madya adalah masa stress

Bahwa usia ini merupakan masa stress. Penyesuaian secara radikal terhadap peran dan pola hidup yang berubah, khususnya bila disertai dengan berbagai perubahan fisik, selalu cenderung merusak nomeostatis fisik dan psikologis dan membawa ke masa stress, suatu masa bila sejumlah penyesuaian yang pokok harus dilakukan di rumah, bisnis dan aspek sosial kehidupan mereka.

4. Usia madya adalah usia yang berbahaya

Cara biasa menginterpretasi “usia berbahaya” ini berasal dari kalangan pria yang ingin melakukan pelampiasan untuk kekerasan yang berakhir sebelum memasuki masa usia lanjut. Usia madya dapat menjadi dan merupakan berbahaya dalam beberapa hal lain juga. Saat ini merupakan suatu masa dimana seseorang mengalami kesusahan fisik sebagai akibat dari terlalu banyak bekerja, rasa cemas yang berlebihan, ataupun kurangnya memperhatikan kehidupan. Timbulnya penyakit jiwa datang dengan cepat di kalangan pria dan wanita dan gangguan ini berpuncak pada suicide. Khususnya di kalangan pria.

5. Usia madya adalah usia canggung

Sama seperti pada remaja, bukan anak-anak bukan juga dewasa. Demikian juga pada pria dan wanita berusia madya. Mereka bukan muda lagi, tetapi juga bukan tua.

6. Usia madya adalah masa berprestasi

Menurut Errikson, usia madya merupakan masa kritis diamana baik generativitas/kecenderungan untuk menghasilkan dan stagnasi atau kecenderungan untuk tetap berhenti akan dominan. Menurut Errikson pada masa usia madya orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti (tetap) tidak mengerjakan sesuatu apapun lagi. Menurutnya apabila orang pada masa usia madya memiliki keinginan yang kuat maka ia akan berhasi, sebaliknya dia memiliki keinginan yang lemah, dia akan stag (atau menetap) pada hidupnya.

7. Usia madya adalah masa evaluasi

Pada usia ini umumnya manusia mencapai puncak prestasinya, maka sangatlah logis jika pada masa ini juga merupakan saat yang pas untuk mengevaluasi prestasi tersebut berdasarkan aspirasi mereka semula dan harapan-harapan orang lain, khususnya teman dan keluarga-keluarga dekat.

8. Usia madya dievaluasi dengan standar ganda

Bahwa pada masa ini dievaluasi dengan standar ganda, satu standar bagi pria dan satu standar bagi wanita. Walaupun perkembangannya cenderung mengarah ke persamaan peran antara pria dan wanita baik di rumah, perusahaan perindustrian, profesi maupun dalam kehidupan sosial namun masih terdapat standar ganda terhadap usia. Meskipun standar ganda ini mempengaruhi banyak aspek terhadap kehidupan pria dan wanita usia madya tetapi ada dua aspek yang perlu diperhatikan : pertama aspek yang berkaitan dengan perubahan jasmani dan yang kedua bagaimana cara pria dan wanita menyatakan sikap pada usia tua.

9. Usia madya merupakan masa sepi

Dimana masa ketika anak-anak tidak lagi tinggal bersama orang tua. Contohnya anak yang mulai beranjak dewasa yang telah bekerja dan tinggal di luar kota sehingga orang tua yang terbiasa dengan kehadiran mereka di rumah akan merasa kesepian dengan kepergian mereka.

10. Usia madya merupakan masa jenuh

Banyak pria atau wanita yang memasuki masa ini mengalami kejenuhan yakni pada sekitar usia 40 akhir. Pra pria merasa jenuh dengan kegiatan rutinitas sehari-hari dan kehidupan keluarga yang hanya sedikit memberi hiburan. Wanita yang menghabiskan waktunya untuk memelihara rumah dan membesarkan anak-anak mereka. Sehingga ada yang merasa kehidupannya tidak ada variasi dan monoton yang membuat mereka merasa jenuh.

C. Perkembangan Fisik, Kognitif, Emosi dan Sosial pada Masa Dewasa Madya

a. Perkembangan Fisik

Pada masa dewasa madya terjadi perubahan fungsi fisik yang tak mampu berfungsi seperti sedia kala, dan beberapa organ tubuh tertentu mulai “aus”.
Perubahan yang bersifat fisik:

1. Mulai terjadinya proses menua secara gradual, maksudnya terlihat tanda-tanda bahwa diri nya mulai tua seperti: tumbuhnya uban di kepala, adanya kerutan-kerutan pada bagian muka, kemampuan fungsi mata berkurang, dan lain-lain.
2. Mulai menurunnya kekuatan fisik, fungsi motorik sensoris.
3. Terjadinya perubahan-perubahan seksual.

b. Perkembangan kognitif

1) Pada tahap ini perkembangan intelektual dewasa sudah mencapai titik akhir. Semua hal yang berikutnya sebenarnya merupakan perluasan, penerapan, dan penghalusan dari pola pemikiran ini.
2) Mampu memasuki dunia logis yang berlaku secara mutlak dan universal yaitu dunia idealitas paling tinggi.
3) Dalam menyelesaikan suatu masalah langsung memasuki masalahnya. Ia mampu mencoba beberapa penyelesaian secara konkrit dan dapat melihat akibat langsung dari usaha-usahanya guna menyelesaikan masalah tersebut.
4) Mampu menyadari keterbatasan baik yang ada pada dirinya (baik fisik maupun kognitif) maupun yang berhubungan dengan realitas di lingkungan hidupnya.
5) Dalam menyelesaikan masalahnya juga memikirkannya terlebih dahulu secara teoritis. Lalu membuat suatu strategi penyelesaian secara verbal.
6) Studi longitudinal seattle menemukan bahwa sebagian besar kemampuan mental memuncak sepanjang masa paruh baya. Kecerdasan cair menurun lebih awal dibandingkan kecerdasan yang mengkristal.

c. Perkembangan Emosi

Dalam kaitannya dengan kecerdasan emosional, otak sangat mempengaruhi dalam emosi orang dewasa, yang mana ada komponen-komponen otak yang berperan dalam pembentukan emosi seseorang, yaitu Perkembangan Sosial.
Perubahan yang bersifat psikis pada masa dewasa madya:
1. Terjadinya kegoncangan jiwa, solah-olah tidak menerima suatu kenyataan.
2. Kaku dan canggung karena penampilannya ingin menyerupai pemuda, tapi kondisi fisiknya sudah tua.
3. Bersifat introvert (perasa, tertutup, kurang suka bergaul), kritis dalam mendidik anak, suka cemas dan pusing-pusing, sukar tidur, dll.
4. Usia berbahaya, maksunya adalah dalam masa ini sering terjadi krisis dalam kehidupan keluarga, karena terjadinya menopause pada istri dan kurangnya gairah seks si istri sehingga suami bisa menjauhkan diri dari istrinya dan malah bisa tak setia atau kawin lagi. Dan istri dengan sikap kelakuan suaminya yang begitu akan membenci suaminya dan timbullah siat memberontak, percecokan mungkin sekali terjadi.
5. Meskipun melalui berbagai kegoncangan dan krisis, namun pada masa setengah baya ini juga terjadi proses penyesuaian dan penyeimbangan atas perubahan-perubahan fisik tersebut berkat kematangan cara berpikirnya, dengan itu dia mampu mencapai titik puncak dala usaha dan karirnya.
6. Penghayatan dan pengalaman agama sangat meningkat sehingga sangat bergairah mengikuti pengajian-pengajian agama, taat beribadah, dan kegiatan keagamaan lainnya. Hal ini wajar ia lakukan secara sadar, karena untuk persiapan menghadapi kehidupan yang lebih lama atau kekal (akhirat).

d. Perkembangan Sosial

1) Masalah di lingkungan kerja.
Pekerjaan adalah pusat perhatian dari hidup khususnya untuk dewasa madya, yang umumnya sebagian besar dari mereka berada dalam puncak karir. Kerja tidak hanya memungkinkan seseorang untuk membiayai kebutuhan sehari-hari tetapi juga dapat menyediakan arti dan harga diri, menyediakan lingkungan kerja teman, dan sumber dari pemenuhan diri (aktualisasi diri). Status sosial dari pekerjaan berpengaruh besar terhadap konsep diri, penghargaan orang lain, dan penghargaan diri sendiri, serta berpengaruh juga terhadap rasa bosan dan well being seseorang.
Pekerjaan merupakan sentral dari kehidupan banyak orang, apabila terjadi pengangguran maka ikatan kerja terputus, banyak penganggur yang jarang menemui teman-temannya, terputusnya ikatan dengan komunitas dalam kehidupan, hal tersebut terus meningkat menjadi isolasi. Menjadi tergantung sering kali dipandang oleh mereka yang tidak bekerja sebagai tanda bahwa dirinya adalah orang yang tidak berkompeten dan tidak berarti, harga diri rendah, cenderung mengalami depresi dan mereka terasingkan oleh masyarakat. Banyak yang menderita rasa malu yang mendalam kemudian menghindari masyarakat.
Angka bunuh diri juga bertambah, ini menunjukkan meningkatnya depresi. Selain itu, yang juga meningkat selama waktu meningkatnya pengangguran adalah tingkat perceraian, insiden kekerasan anak dan angka radang dinding lambung (stress-dihubungkan dengan penyakit).

2) Masalah dalam sistem keluarga
1. Pernikahan yang kosong, hampa ataupun jenuh
Dalam pernikahan yang kosong, hampa, ataupun jenuh didalamnya tidak ada hubungan dan ikatan yang kuat antara sesama anggota keluarga.
2. Perceraian
Penelitian memperlihatkan bahwa melewati sebuah masa perceraian merupakan suatu masa yang sangat sulit. Orang tidak dapat menampilkan kinerja yang baik pada pekerjaanya dan sepertinya banyak yang dipecat dalam periode ini. Orang yang bercerai memiliki angka harapan hidup yang rendah dan angka bunuh diri pada laki-laki yang bercerai sangat tinggi.
Konsekuensi yang timbul dari perceraian antara lain: orang menjadi marah dan gelisah, merasa bersalah pada diri sendiri, dan dampak utama bagi wanita adalah masalah standar hidup yang menurun.
3. Keluarga dengan orang tua tunggal
Orang tua tunggal harus memenuhi seluruh tanggung jawab yang seharusnya dibagi dengan pasangan. Hal ini berarti orang tua tunggal harus berperan sebagai kedua orang tua sekaligus.
4. Keluarga campuran
Kecemburuan merupakan hal yang pasti akan tumbuh dalam pembagian perhatian dari orangtua kepada anak kandung maupun anak tiri. Untuk itu diperlukan adaptasi dan proses pembelajaran.
Masalah yang paling sering berpotensi menimbulkan tekanan adalah cara membesarkan anak. Anak tiri harus berusaha menyesuaikan dengan satu set peraturan baru yang diterapkan orang tua tiri. Tidak jarang si anak menjadi rindu kepada orangtuanya. Untuk itu, baik anak maupun orang tua harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan masing-masing. Menjadi orang tua tiri umumnya lebih sulit pada wanita, karena pada umumnya anak lebih dekat kepada Ibu kandungnya secara emosional.
5. Ibu yang bekerja diluar (Ibu sebagai wanita karir)
Dengan bekerja diluar rumah, maka Ibu atau seorang istri yang memegang peranan penting dalam keluarga serta anak-anak mereka tentunya mengalami permasalahan. Anak memerlukan perhatian dan kasih sayang yang ekstra dari seorang Ibu.

D. Bahaya-Bahaya pada dewasa Madya

1. Bahaya Personal

1) Diterimanya Kepercayaan Tradisional
Diterimanya kepercayaan traditional tentang ciri-ciri usia madya mempunyai pengaruh yang sangat mendalam terhadap perubahan perilaku fisik yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Seseorang yang mengalami masa menopause misalnya, sering disebut sebagai “masa kritis” (critical period). Kepercayaan seperti ini dapat menambah rasa takut yang tidak menentu.

2) Idealisasi Anak Muda
Banyak orang usia madya khususnya kaum pria secara konstan menentang pengelompokkan usia dalam pola perilaku umum. Mereka tidak mau dibatasi perilaku dan kegiatannya. Sikap memberontak seperti itu berasal dari pengenalan terhadap nilai bahwa masyarakat mengikat anak muda dan karena itu mereka menentang terhadap setiap bentuk pembatasan, ini berarti mereka sedang tumbuh menjadi lebih tua. Kondisi semacam ini menyebabkan mereka yang berusia madya menderita biasa atau lebih serius.

3) Perubahan Peran
Untuk dapat menyesuaikan dengan baik dengan peran yang baru, seseorang harus dapat berbuat seperti yang dikatakan oleh Havighurst : “menghilangkan emosi yang selama ini diterapkan dalam peran tertentu dan memanfaatkannya pada kesempatan yang lain”.

4) Perubahan Keinginan dan Minat
Bahaya besar dalam penyesuaian diri seseorang pada usia madya timbul karena ia mau tidak mau harus mengubah keinginan dan minatnya sesuai dengan tingkat ketahanan tubuh dan kemampuan fisik serta memburuknya tingkat kesehatan fisik. Merka mau tidak mau harus mencoba untuk mencari dan mengembangkan keinginan baru sebagai pengangganti keinginan lama yang biasa dilakukan, atau jauh hari sebelum masa madya tiba mereka telah mengembangkan keinginan baru tersebut yang cukup menarik sehingga dapat membebaskannya dari perasaan tertekan dan tidak enak karena kehilangan keinginan yang biasanya dilakukan.

5) Simbol status
Kebanyakan dewasa madya memiliki respon yang besar terhadap simbol status, hal tersebut merupakan tanda betapa besar keinginan seorang untuk memperoleh symbol status. Sikap seperti ini dapat menimbulkan percekcokan dengan keluarga, dan bersikap tidak menyenangkan. Karena ia sadar hal itu tidak mungkin ia peroleh.

6) Aspirasi yang tidak Realistis
Orang berusia madya yang mempunyai keinginan yang tidak realistis tentang apa yang ingin dicapai, akan menghadapi masalah yang serius dalam proses penyesuaian diri dan social, apabila ia kelak menyadari bahwa ia tidak bias mencapai tujuan tersebut

2. Bahaya Sosial

Ada beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi penyesuaian social pada masa usia madya. Kondisi ini umumnya dibawa secara bertahap sejak seseorang masih muda, terutama pada waktu seseorang berusia remaja dan dewasa muda. Itulah sebabnya menyapa orang pada masa mudanya tidak memiliki kemampuan penyesuaian social dengan cara yang baik sehingga pada waktu ia berusia madya hasilnya akan sama saja.
Penyesuaian sosial yang buruk pada masa tersebut, merupakan bahaya, karena semakin bertambah usia seseorang maka ia akan semakin bergantug pada orang lain, terutama orang yang suami atau isterinya telah meninggal, sedang anak-anaknya sibuk dengan keluarga masing-masing. Orang usia madya yang tidak dapat mengikuti perkembangan penting untuk memegang tanggung jawab sosial dan tanggung jawab sebagai warga Negara di masa tuanya hidupnya akan terasa kesepian dan tidak bahagia sehingga mengakibatkan ia terlambat dalam proses penyesuian socialnya.

3. Bahaya Pekerjaan

a) Pertama Kegagalan dalam Mencapai Cita-cita Awal
Kegagalan dalam mencapai cita-cita hidup yang sejak awal telah diimpikan oleh orang berusia madya mengakibatkan menurunnya sikap egonya karena ia tahu bahwa usia madya merupakan saat pencapaian puncak prestasi dan oleh sebab itu, ia tampaknya tidak berminat lagi untuk meraih cita-citanya di saat usia sudah cukup lanjut. Reaksinya terhadap kegagalan dalam mencapai cita-citanya mempengaruhi sikap mereka terhadap dirinya sendiri, terhadap penyesuaian social, dan terhadap pribadinya pada saat kegagalan tersebut terjadi dan pada waktu ia mencapai usia lanjut.

b) Mundurnya Kreativitas
Kebanyakan para pekerja pada usia madya menampilkan gejala kreativitas kerjanya mundur. Hal ini mengakibatkan orang merasa kurang dengan prestasi yang diperolehnya dan menyatakan bahwa kreativitasnya sudah tidak sehebat yang pernah dicapai dulu.

c) Kebosanan
Perasaan bosan selama masa dewasa dini juga merupakan bahaya dalam bekerja, karena hal itu akan mempengaruhi pekerja usia madya melebihi kebosanan pekerja yang lebih muda, karena kesempatan mereka untuk mencari pekerjaan yang lebih menarik semakin lama semakin kecil kemungkinan.

d) Keagungan
Kecenderungan menjadi agung (“bigness”) dalam bidang usaha, industry dan pekerjaan professional lainnya juga merupakan bahaya pekerjaan bagi para pekerja yang berusia madya dewasa ini, karena kebiasaan bekerja dalam situasi yang ramah, situasi kerjanya tidak formal, di mana ia tahu setiap teman sejawatnya, kapan waktu untuk istirahat dan kesempatan santai lainnya, kapan waktu untuk mengobrol dengan kawan, bekerja dalam kelompok besar, merupakan ciri-ciri suasana bebas dari lingkungan kerja.

e) Perasaan Terperangkap
Banyak pekerja usia madya yang merasa “terperangka” dalam pekerjaan sebagai sisa hidupnya, dan merasa tidak akan dapat untuk membebaskan diri sendiri sampai ia mencapai usia pension.

f) Pengangguran
Menganggur merupakan bahaya mental yang paling serius bagi setiap pekerja, tanpa pandang usia, jenis kelamin, suku dan status serta golongan. Orang yang sudah menganggur dalam waktu yang lama perasaannya sering berkembang kea rah yang tidak menentu dan merasa tidak diperlukan, yang mengakibatkan sikapnya sangat pasif (extreme passivity) atau sangat agresif (overaggresiveness). Kedua sikap ini sangat tidak menguntungkan dalam mencari pekerjaan di masa yang akan datang.

g) Sikap Tidak Menyenangkan Terhadap Pekerjaan
Sikap tidak menyenangkan terhadap pekerjaan dapat menimbulkan efek yang merusak pada prestasi kerja dan penyesuaian pribadi para pekerja berusia madya.

h) Mobilitas Geogfrafis
Kebanyakan orang yang berusia madya tidak senang untuk dipindahkan, khususnya apabila orang masih mempunyai anak usia belasan yang masih sekolah, atau karena isterinya juga bekerja atau aktif dalam organisasi atau kegiatan masyarakat.

4. Bahaya Perkawinan

a) Kebosanan
Wanita yang membaktikan seluruh masa hidup dewasanya untuk mengurusi rumah tangga menjadi bosan pada usia madya, pada ibu yang berperan sebagai ibu rumah tangga.

b) Oposisi terhadap Perkawinan Anak.
Masalah yang serius kadang-kadang atau timbul pada waktu seorang anak usia remaja atau anak yang sudah dewasa menikah dengan seseorang, sedang orang tuanya tidak setuju. Apabila mereka menantang perkawinannya, hal ini akan menjadi penghalang dalam menyesuaikan diri dengan cara yang memuaskan, pada saat berangkat meninggalkan rumah.

c) Ketidakmampuan Membangun Hubungan Yang Memuaskan dengan Pasangan Sebagai Pribadi.

d) Penyesuian Seksual
Kegagalan untuk mencapai hubungan yang baik dengan pasangan mempunyai efek balik dalam penyesuaian seksual selama masa usia madya. Faktor tersebut membahayakan penyesuaian perkawinan dan sangat menambah kekecewaan terhadap perkawinan selama periode tersebut.

e) Merawat Orang Tua Usia Lanjut
Merawat orang tua usia lanjut dirumah sendiri merupakan bahaya yang serius bagi kebanyakan pasangan usia madya, karena tugas tersebut menganggu penyesuaian mereka satu sama lain setelah anak-anak mulai meninggalkan rumah. Akibatnya penyesuaian seksual akan terpengaruh.

f) Hilangnya Pasangan
Hilangnya pasangan karena kematian atau perceraian selama usia madya merupakan bahaya terhadap penyesuaian social dari pribadi yang baik, karena banyaknya masalah. Karena itu, perceraian atau ancaman perceraian adalah salah satu dari seluruh bahaya perkawinan yang paling serius pada usia madya.

g) Kawin-lagi
Kawin lagi pada usia madya nampaknya menjadi berbahaya, khususnya apabila karena perceraian. Selama masalah keuangan merupakan penyakit bagi orang dewasa yang lebih muda, yang kawin lagi setelah cerai, masalah penyesuaian terhadap masing-masing dan terhadap pola hidup baru merupakan gangguan yang lebih menonjol bagi keberhasilan pernikahan pada usia madya. Hal ini selalu sulit bagi usia madya untuk mengubah peran dan mengikuti pola hidup yang baru.

BAB II

PENUTUP

A. Kesimpulan

Masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya memasuki suatu periode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan perilaku yang baru. Tahun – tahun ini merupakan masa puncak dimana kondisi kesejahteraan psikologis, kesehatan, produktivitas, dan keterlibatan dalam masyarakat sangat optimal.
Masa-masa ini juga seringkali merupakan waktu untuk melakukan refleksi dan peninjauan kembali. Orang melihat kembali hal-hal yang telah mereka capai, merinci hal-hal yang mereka sesali atau sisa hidup mereka. Dan juga saat krisis terjadi, hal ini terjadi karena alasan yang tidak berhubungan dengan bertambahnya usia,melainkan karena kejadian-kejadian spesifik yang mengubah hidup seseorang, misalnya terjangkit penyakit atau kehilangan pekerjaan atau pasangan.

B. Saran

Dalam pembuatan makalah ini apabila ada keterangan yang kurang bisa dipahami, penulis mohon maaf yng sebesar-besarnya dan penulis sangat brterimakasih apabila ada saran/kritik yang bersifat membangun sebagai penyempurna makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Diane E. Papalia, dkk. Human Development (Psikologi Perkembangan) Bagian V s/d IX. Jakarta: Kencana,2008

Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Jakarta:Erlangga, 1980

http://psiervianto.blogspot.com/2013/01/makalah-perkembangan-fisik-dan-kognitif.html

http://jeffy-louis.blogspot.com/2011/06/makalah-perkembangan-masa-madya.html

Mubin, Ani Cahayadi. Psikologi Perkembangan Ciputan: Quantum Teaching, 2006

Sumadi Suryabrata, Psikologi kepribadian Jakarta:CV. Rajawali, 1990

 

Pos ini dipublikasikan di PENDIDIKAN dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s