MAKALAH PSIKOLOGI AGAMA Tentang RUANG LINGKUP DAN KEGUNAAN PSIKOLOGI AGAMA


MAKALAH

PSIKOLOGI AGAMA

Tentang

RUANG LINGKUP DAN KEGUNAAN PSIKOLOGI AGAMA

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. RUANG LINGKUP PSIKOLOGI AGAMA

Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yangg dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari maslah agama lainnya.

Pernyataan Robert Thouless, memusatkan kajiannya pada agama agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok / masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan menggunakan psikologi.

Menurut Zakiyah Daradjat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama mengenai:

1)      Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut serta dalam kehidupan beragama orang biasa ( umum ). Contoh : perasaan tenang, pasrah dan menyerah.

2)      Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap Tuhannya. Contohnya: kelegaan batin.

3)      Mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati/ akhirat pada tiap-tiap orang.

4)      Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut  memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.

5)      Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci kelegaan batinnya.

Semua itu tercangakup dalam kesadaran beragama (religious counsciousness) dan pengalaman agama ( religious experience ).[1]

  1. MANFAAT/ KEGUNAAN PSIKOLOGI AGAMA

Psikologi agama telah banyak memberikan sumbangan dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan agama yang dianut. Kemudian bagaimana rasa keagamaan itu tumbuh dan berkembang pada diri seseorang dalam tingkah usia tertentu, ataupun bagaimana perasaan keagamaan itu dapat mempengaruhi ketentraman batinnya, maupun berbagai konflik yang terjadi dalam diri seseorang hingga ia menjadi lebih taat menjalankan ajarannya agamanya atau meninggalkan ajaran itu sama sekali.

Menurut Djalaluddin kegunaan psikologi agama adalah dapat dimanfaatkan dalam lapangan kehidupan seperti dalam bidang pendidikan, psikoterapi dan lapangan lainnya dalam kehidupan. Bahkan sudah sejak lama pemerintah kolonial Belanda memanfaatkan hasil kajian psikologi agama untuk kepentingan politik. Pendekatan agama yang dilakukan oleh Snouck Hugronje terhadap para pemuka agama dalam upaya mempertahakan politik  penjajahan Belanda di Indonesia.

Di bidang industri juga psikologi agama dapat dimanfaatkan. Sekitar tahun 1950-an di perusahan minyak Stanvac (Plaju dan Sungai Gerong) diselenggarakan ceramah agama Islam untuk para pekerjanya. Para penceramah adalah pemuka agama setempat. Kegiatan berkala ini diselenggarakan didasarkan atas asumsi bahwa ajaran agama mengandung nilai-nilai moral yang dapat menyadarkan para pekerja dari perbuatan yang tak terpuji dan merugikan perusahaan. Hasil dari kegiatan tersebut dievaluasi, dan ternyata pengaruh ini dapat mengurangi kebocoran seperti pencurian, manipulasi maupun penjualan barang-barang perusahaan yang sebelumnya sukar dilacak.

Dengan demikian psikologi dapat dimanfaatkan dalam segala jenis lapanan kehidupan, baik ekonomi, pendidikan, sosial kemasyarakatan, perdagangan, ekonomi, dunia politik dan lapangan-lapangan kehidupan lainnya.

Dalam pandangan Islam, psikologi dan agama ini sangatlah dibutuhkan, karena psikologi dan agama sama-sama mempelajari tentang jiwa dan kepercayaan seseorang terhadap Tuhannya.

Psikologi dimiliki oleh manusia secara pribadi yang memberikan arah emosional dalam merealisasikan perbuatannya sehari-hari, karena itulah daya-daya jiwa manusia perlu dikembangkan, diperhatikan dan diarahkan kemana ia lebih cenderung. Salah satu jiwa manusia yang sangat menentukan dalam keberhasilan hidup adalah yang dikatakan intelegensi question. Kemudian, dilengkapi dengan emosional question, serta diarahkan oleh spiritual question. Berarti manusia yang diinginkan oleh Allah sebagaimana yang dicantumkan dalam firman-Nya :

Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat:56)

Berarti dalam pencapaian tujuan Allah tersebut sangatlah dibutuhkan kemampuan-kemampuan dasar manusia atau yang disebut berdaya jiwa manusia yaitu kemampuan manusia berpikir, bertindak dan menentukan apa yang akan dilakukan. Kemampuan-kemampuan ini adalah bahasan dari psikologi, sedangkan warna atau batasan apakah perilaku yang akan dilakukan oleh manusia itu berkategori dibolehkan atau tidak yang kesemuanya itu menentukan tingkat kebaikan dan nilai dari perilaku manusia itu sendiri adalah dibahas dalam Islam.

Berarti, antara psikologi agama dan Islam bahasannya adalah sangat dan saling menunjang dan menentukan,  hanya psikologi agama masih meliputi secara umum yaitu meliputi semua agama sedangkan Islam untuk agama Islam.

Dari penjelasan di atas, bahwa psikologi agama dapat digunakan di semua aspek seperti dalam bidang industri yaitu meningkatnya jumlah produksi dan penghasilan dan meminimalkan bentuk kejahatan dalam industri seperti pencurian. Begitu juga dalam bidang pendidikan yaitu siswa menjadi rajin, aktif, tidak menyontek ketika ujian dan menambah semangat dalam belajar.[2]

Adapun manfaat psikologi agama dapat dilihat dari beberapa sisi antara lain sisi kedamaian atau sisi keselamatan, dunia, sisi paedagogis, dan sisi penyehatan mental. Dilihat dari kepentingan kedamain dunia yang pada hakikatnya ini adalah tujuan tertinggi dari semua agama, maka dengan mengetahui psikologi agama orang dapat mengerti perilaku orang beragama atau individu yang memiliki kepercayaan tertentu. Dengan pemahaman tersebut diharapkan tidak terjadi penghakiman terhadap perrilaku beragama seseorang. Karena focus masalah psikologi agama pada hakikatnya adalah memahami “ mengapa orang menyembah atau mengagungkan sesuatu” yang dimaksudkan dengan sesuatu disini boleh jadi Allah, Tuhan, patung, pohon besar, batu besar, sungai, sapi, dan lain-lain yang dianggap besar dan suci oleh orang yang mempercayai.

Pemahaman agama saja tanpa memahami psikologi agama dalam masyarakat yang plural atau menganut berbagai kepercayaan, maka dikhawatirkan akan memungkinkan terjadi fanatisme yang berlebihan terhadap suatu agama atau ajaran tertentu. Karena umumnya pemeluk suatu agama atau ajaran tertentu. Karena umumnya pemeluk suatu agama atau suatu kepercayaan beranggapan bahwa agamanyalah yang paling benar yang diluar agamanya salah atau sesat.

Akhir-akhir  ini betapa banyak terlihat perpecahan, bahkan peperangan yang mengatasnamakan agama, baik di Indonesia maupun di Negara lain. Misalnya, dapat dilihat antara katolik dengan protestan di irlandia, antara yahudi dan muslim di palestina, dan banyak lagi wilayah-wilayah lain yang mengalami konflik karena perbedaan agama.

Dari sudut paedagogis psikologi agama bermanfaat untuk mengetahui tahap-tahap perkembangan manusia, sehingga dapat dirancang atau diperkirakan pesan keagamaan yang memungkinkan diterima oleh mereka. Betapa banyak pesan-pesan atau ajaran keagamaan yang tidak diamalkan, bahkan ditolak seseorang, karena  penyampai pesan atau pendakwah agama tersebut menyampaikan dengan cara yang tidak tepat.

Sebaliknya tidak jarang ditemukan bahwa seseorang berpindah agama karena cara penyampaian dakwah kepadanya sangat tepat, sekalipun isi dakwah yang disampaikan itu sangat sederhana. Dalam hal ini kajian psikologi agama sangat membantu tokoh agama, ulama, atau pengembala umat dalam melayani umat mereka.

Di lihat dari sudut kesehatan mental, kajian psikologi agama sangat  bermanfaat dalam 3 bentuk kesehatan mental :

  1. Pencegahan

Untuk pencegahan ajaran agama tentang tawwakal, kepasrahan, dan lain-lain sejenisnya dapat menghindari gangguan mental, dalam bentuk stress dan sejenisnya.

  1. Pengobatan

Kesediaan untuk mengamalkan ajaran agama dapat menjadi terapi atau pengobatan mental. Disamping itu, do’a juga membantu pemeliharaan kesehatan mental, dimana manusia dapat mengadukan berbagai persoalan hidup yang dialaminya kepada yang maha kuasa.

  1. Pemeliharaan serta peningkatan

Dalam hal ini do’a berfungsi sebagai katarsis yakni melepaskan hal-hal yang mengganggu pikiran seseorang, yang pada hakikatnya sangat diperlukan dalam kehidupan. Dengan demikian fungsi pencegahan, penyembuhan, pemeliharaan dan peningkatan kesehatan mental dapat terpenuhi.[3]

  1. PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA DI BARAT

1)      Pada Abad ke-19

         Setelah munculnya berbagai penemuan tentang ilmu pengetahuan alam dan teknologi oleh para ilmuwan Barat, ilmu alam semakin berkembang. Penelitian Ilmiahpun tidak hanya ditujukan untuk alam saja, tetapi juga untuk manusia sebagai penghuninya. Terbitnya buku karya Darwin yang berjudul origin of Species pada tahun 1859, mengisyaratkan bahwa kehidupan manusia ternyata dapat diamati dan diteliti secara rasional. 20 tahun kemudian, Prof. Wilhem Wundt (1832-1920) dari Universitas Leipziq, mendirikan sebuah laboratorium untuk merancang dan memanfaatkan metode eksperimental yang disesuaikan untuk studi tentang perilaku manusia. Sehingga pada tahun 1879 disebut-sebut sebagai tahun kelahiran psikologi ilmiah modern. Pada tahun-tahun selanjutnya psikologi ilmiah modern makin menjadi ilmu pengetahuan yang mapan setelah berhasilnya eksperimen yang dilakukan oleh wuldt tersebut. Akan tetapi di sisi lain Agama seakan luput dari perhatian, hal ini karena Agama dianggap sebagai hal yang tabu dan suci untuk dibahas secara ilmiah. Menurut mereka penjelasan dan penyelesaian tentang hal-hal yang berhubungan dengan Agama seharusnya dicari dari kitab suci. Hal inilah yang mengakibatkan pada separuh kedua abad 19 psikologi Agama belum dikenal.
Menurut para ahli psikologi Agama Barat, kajian mengenai Psikologi Agama telah populer sejak akhir abad ke-19. Pada masa itu psikologi yang kian berkembang digunakan sebagai alat kajian Agama. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berpikir dan menemukan perasaan keagamaan. Diantara buku tentang psikologi Agama yang terbit saat itu adalah “The Psikology of Religion”, yang dikarang oleh Edwin Diller starbuck pada tahun 1899. Kemudian disusul oleh buku karangan George Albert Coe yang berjudul “The spiritual Life ” pada tahun1900.

2)        Pada Abad ke-20

         Seiring dengan berkembangnya psikologi pada akhir abad ke-19, pada awal abad ke-20 buku-buku yang mengkaji psikologi Agama semakin banyak dikarang dan dikaji oleh ilmuwan-ilmuwan barat. Diantara buku-buku tersebut adalah:

  1. Revelation Of Devine love (1901), dikarang oleh Dame julian. Buku ini mengkaji tentang wahyu.
  2. The varieties of Religioous experience (1903), berasal dari kumpulan materi kuliah willliam James di Skotlandia.
  3. The Religious Consiousness (1920), dikarang oleh J.B Pratt. Buku ini mengakji tentang kesadaran beragama.
  4. Studies in Islamic Mysticism (1921), dikarang oleh R.A Nicholson. Buku ini secara khusus mempelajari mengenai aliran sufisme dalam Islam.
  5. The Belief in God and Immorality (1921), dikarang oleh J.H. Leuba.
  6. The Shadu (1921), dikarang oleh A.j Appasamy dan B.h Streeter. Buku ini membahas tentang kehidupan beragama umat Hindu.
  7. An Introductionto The Psikology of Religion (1923), Robert H. Thouless.[4]
  1. PERKEMBANGAN PSOKOLOGI AGAMA DI TIMUR TENGAH

         Berdasarkan fakta sejarah, sebenarnya jauh sebelum para ilmuwan Barat mengkaji tentang Psikologi Agama, para ilmuwan muslim telah banyak membahasnya. Seperti tulisan Muhammad Ishaq bin Yasar pada abad ke-7 yang berjudul Al Siyar wa Al Mahgazhi. Buku ini membahasa berbahas berbagai fragmen dari biografi Nabi Muhammad SAW. Ada pula karya Abu Bakr bin Abu Malin Bin thufail (1106-1185) yang berjudul Risalah Hayy ibn Yaqzan Fi Asrar al hikmat al Masyriqiyyat. Buku ini memuat masalah-masalah yang erat kaitannya dengan psikologi Agama.
Selain dua pengarang di atas, terdapat pula karangan Imam Al Ghazali (1059-1111) yang berjudul “ Al Munqidz min Adhalal” dan kitab ihya’ ulumuddin yang sarat akan muatan-muatan yang erat hubungannya denga Psikologi Agama.

         Sebanarnya diperkirakan masih banyak lagi tulisan-tulisan karya ilmuwan muslim yang membahas tentang psikologi Agama, hanya saja tulisan-tulisan tersebut belum sempat dikembangkan menjadi disiplin ilmu tersendiri seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan barat.

Ada beberapa alasan karya-karya Ulama Islam tidak dikembangkan sebagaimana yang dilakukan oleh Ilmuwan Barat pada saat itu. Penyebab-penyebab itu antara lain:

  1. Sejak masa kemunduran Negara-negara Islam, perhatian para ilmuan terhadap kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan mulai menurun. Hal ini karena pengembangan ilmu pengetahuan tentunya membutuhkan biaya yang cukup banyak. Seiring dengan kemunduran Islam dibidang politik, Negara-negara Barat mulai berkembang menjadi negara-negara modern. Dengan demikian Negara-negara Islam yang berhadapan kemajuan ilmu pengetahuan dan penjajahan barat, disibukkan oleh permasalahan politik.
  2. Sejak bangsa Mongol menyerang Bagdad yang merupakan pusat peradaban Islam, serta kekalahan Islam di Andalusia, terjadi pemusnahan karya para ilmuwan Muslim.
  3. Sikap para ilmuwan barat yang kurang menghargai hasil karya ilmuwan muslim (terutama setelah masa kemunduran Islam).
  4. Karya-karya ilmuwan muslim di zaman klasik umumnya ditulis oleh para ilmwan yang dikenal dengan sebutan yang berkonotasi keagamaan seperti mufassirin (ahli tafsir), muhaddsiin (Ahli hadits), Fuqaha (ahli fiqh), ataupun ahl Hikmah (filosof), sehingga karya-karya mereka selalu diidentikkan dengan ilmu-ilmu yang murni Agama (Islam) atau filsafat.

Pada abad ke-20 banyak para ilmuwan Islam yang mengarang buku bertema psikologi Agama, diantaranya:

  1. D.R Abdul Mun’in Abdul Aziz Al Malighi (1955), mengarang buku yang berjudul Tatawwur Al syu’ur Al diny inda Thifl Wa Al Murahiq. Buku ini membahasa perkembangan rasa Agama pada anak-anak dan remaja. Selain itu beliau juga menulis buku tentang psikologi yang berjudul Annumuwwu Al Nafsy pada tahun 1957.[5]
  2. Afif Abdul Fattah yang menulis buku berjudul “Ruh Al diin Al Islamy”,diterbitkan pada tahun 1956.
  3. Musthafa fahmi yang menyusn buku yang berjudul “Al Shihah Al Nafsiyah” , diterbitkan pada tahun 1963.
  1. PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA DI INDONESIA

Perkembangan psikologi Agama di Indonesia di tandai dengan munculnya berbagai buku psikologi Agama yang dipelopori oleh para tokoh yang berprofesi sebagai ilmuwan, Agamawan, Akademisi dan di bidang kedokteran. Diantara karya-karya tersebut adalah:

  1. Agama dan kesehatan Badan/jiwa (1965), dikarang oleh Prof. dr. H. Aulia.
  2. Ilmu jiwa Agama (1970) dan Peranan Agama dalam kesehatan mental (1970), dikarang Prof. dr. Zakiah Daradjat.
  3. Islam dan Psikomotorik (1975), mambahas masalah Islam dan kesehatan jiwa dikarang oleh K.H. S. S. Djam’an.
  4. Pengantar Ilmu Jiwa Agama (1982), membahas pengalaman dan motivasi beragama, dikarang oleh dr. Nico Syukur Dister.
  5. Pengantar Ilmu Jiwa Agama, dikarang oleh Dr, Jalaluddin dan Dr. Ramayulis.
  6. Teori-teori kesehatan mental (1986), yang telah dikaji oleh Ulama-ulama muslim Zaman klasik tentang kesehatamn mental menurut pendekatan Islam, dikarang oleh Prof. Dr. Hasan Langgulung.
  7. Psikologi Agama (1996), dikarang oleh Jalaluddin.

         Sejak menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri, perkembangan psikologi Agama dinilai cukup pesat, dibanding usianya yang masih tergolong muda. Hal ini antara lain disebabkan selain bidang kajian psikologi Agama menyangkut kehidupan manusia secara pribadi, maupun kelompok, bidang kajiannya juga mencakup permasalahan yang menyangkut perkembangan usia manusia. Selain itu sesuai dengan bidang cakupanya, ternyata psikologi Agama termasuk ilmu terapan yang banyak manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Perkembangan psikologi agama yang cukup pesat ini antara lain ditandai dengan diterbitkanya berbagai karya tulis baik berupa buku maupun artikel dan jurnal yang memuat kajian tentang bagaimana peran Agama dalam kehidupan manusia. Dengan demikian psikologi Agama kini telah memasuki berbagai bidang kehidupan manusia, sejak dari rumah tangga, sekolah, institut keagamaan, rumah-rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, bahkan hingga ke lembaga kemasyarakatan.

Tampaknya para ilmuwan dan agamawan yang semula berselisih pendapat mengenai psikologi Agama ini, kini seakan menyatu dalam kesepakatan yang tak tertulis, bahwa dalam kehidupan modern ini, peran Agama kian penting. Dan pendekatan psikologi Agama dapat digunakan dalam memecahkan berbagai problema kehidupan yang dihadapi manusia sebagai makhluk yang memiliki nilai-nilai peradaban dan nilai moral.[6]

 ==================================================================================

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yangg dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari maslah agama lainnya.

Psikologi agama telah banyak memberikan sumbangan dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan agama yang dianut. Kemudian sama sekali.tingkah usia tertentu, ataupun bagaimana perasaan keagamaan itu dapat mempengaruhi ketentraman batinnya, maupun berbagai konflik yang terjadi dalam diri seseorang hingga ia menjadi lebih taat menjalankan ajarannya agamanya atau meninggalkan ajaran itu bagaimana rasa keagamaan itu tumbuh dan berkembang pada diri seseorang dalam

  1. Saran

Dalam pembuatan makalah ini apabila ada keterangan yang kurang bisa dipahami, penulis mohon maaf yng sebesar-besarnya dan penulis sangat brterimakasih apabila ada saran/kritik yang bersifat membangun sebagai penyempurna makalah ini.

===================================================================================

DAFTAR PUSTAKA

Hayati nizar. Psikologi agama.(Padang.IAIN IB-press.2003)

Sururin. Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2004)

http://cimyelfata.blogspot.com/2008/08/sejarah-perkembangan-psikologi.html

http://ghufron-dimyati.blogspot.com/2011/09/psikologi-agama-1-kelas-b.html

http://zempat.blogspot.com/2013/01/pengertian-sejarah-perkembangan-manfaat.html

http://darshenie.blogspot.com/2011/12/psikologi-agama.html

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s