Makalah Ilmu Kalam (AKDAH ISLAM : POKOK DAN CABANG)


MAKALAH

ILMU KALAM

Tentang

AQIDAH ISLAM : POKOK DAN CABANG

Oleh :

Kelompok 3

Lusi Marlina                 :412.227

Yessy Azwarni             :412.635

Risa Aisa Putri             :412.555

Suci Ramadani             : 412.

M. Iqbal Mayudi          : 412.

DOSEN PEMBIMBING :

Dra. Hj. Murni, M.Ag

PROGRAM TADRIS MATEMATIKA–B

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

IMAM BONJOL PADANG

1434 H/ 2013 M

 ===========================================================================

KATA PENGGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Asslamu`alaikum wr.wb

Alhamdulillahirabbil`alamin, Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah swt yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, serta telah membuka akal pikiran hingga tersusunlah makalah ini dari berbagai sumber sebagai tugas perkuliahan pada mata kuliah “Ilmu Kalam”.

Salawat dan salam tak lupa pula kita hadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing kita sehingga kita membedakan antara haq dan bathil.

Semoga dengan disusunya makalah Akhlak Tasawuf yang bertema “Akidah Islam : Pokok dan Cabang” ini dapat menambah pemahaman kita tentang pendidikan, dan kita mampu untuk menerapkan dalam proses belajar mengajar.

Ucapan terima kasih  kepada dosen mata kuliah Ilmu Kalam dan teman-teman telah membantu selesainya makalah ini. Kritik yang membangun informasi dan gagasan yang inovatif tetap kami harapkan dikemudian hari agar kami bisa menjadi baik.

Padang , 19 September 2013

penulis

===================================================================================

BAB II

PEMBAHASAN

AKDAH ISLAM : POKOK DAN CABANG

  1. A.      Akidah Pokok (Yang Disepakati)

Nabi Muhammad merupakan penanam akidah yang kuat kepada para sahabtnya. Akidah umat Islam pada masa Nabi dan dua khalifah sesudahnya masih dapat dipersatukan. Prsoalan akidah pada waktu itu masih mengkistal keras, sehingga tidak mudah ntuk mencairkannya.

Memang hal demikian telah diusahakan oleh umat Islam waktu itu untuk mempersatukan umat Islam, sehingga kalau timbul persoalan-persoalan yang akan menggoyahkan sendi-sendi akidah segera dapat diselesaikan dan tidak sampai berlarut-larut.

Rukun iman yang mencakup 6 aspek diistilahkan dengan akidah pokok dalam Islam.

  1. B.       Akidah Cabang (Yang Diperselisihkan)

Setelah berakhirnya kepemimpinan khalifah kedua umat Islam tidak dapat menahan diri atau menukupkan diri dengan apa yang telah dijaga bersama.

            Pada saat itu umat Islam tidak mampu lagi untuk mempertahankan kesatuan dan keutuhan akidah, karena masing-masing berusaha untuk membuka pintu persoalan akidah yang pada masa sebelumnya terkunci. Masing-masing kelompok berusaha memasuki pintu itu untuk memperebutkan klaim kebenaran kelompoknya.

            Maka lahirlah cabang-cabang akidah yang pemahamannya bervariasi dari masing-masing aspek rukun iman yang berjumlah 6.[1]

  1. C.      Zat Allah dan Sifatnya

 

  1. 1.    Zat Allah.      

Al-qur’an menjelaskan hakikat Allah SWT sebagai berikut:

“Allah adalah zat yang ada dengan sendirinya, melingkupi seluruh alam, abadi, dan hakikat yang mutlak. Dialah yang terdahulu dan terakhir, yang zahir dan yang batin. Dia mengatasi segalanya. Sehingga dia dalam keaggungan-nya yang hakiki tak dapat kita ketahui dan kita rasakan sebagai ciptaan-nya yang terbatas, yakni terbatas karna kita hanya dapat mengetahui apa-apa yng melekat didalam alam pikiran atau terlintasi dalamna. Tiada penglihatan yang dapat mencapainya. Dia diatas segalanya. Dia juga meliputi segalanya, karna ia berada diluar batas-batas dimensi waktu dan ruang dan kemampuan akal budi ini. Dia ada sebelum adanya waktu, ruang, dan dunia akal  budi. Dia selalu dekat dengan akal jiwa dan langit. Kita tak dapat mengetahui hakikat Allah yang sesungguhnya, meski hanya sedikit. Agar kita memahami apa yang tidak dapat kita mengerti, ia menggunakan perumpaman-perumpamaan yang sesuai dengan pengalaman kita: seperti antara lain firman Allah dalam surat An-Nur 35:[2]

  1. 35.  Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[1039], yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)[1040], yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

[1039]  yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, Biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain.

[1040]  Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.

       Dalam mengenal zat Allah, manusia hanya mampu sampai pada batas mengetahui bahwa Zat Tuhan Yang Maha Esa itu ada (wujud), tidak lebih dari itu. Untuk ma’rifat lebih lanjut manusia memerlukan bantuan wahyu sebagai petunjuk dari Allah. Sebab itulah, Allah mengutus para Rasul untuk menjelaskan apa dan bagaimana Allah itu dengan petunjuk wahyu. Namun, bukan berarti Rasul menjelaskan bentuk dari Zat Allah tersebut, tetapi hanya menjelaskan bentuk sifat-sifat Allah dengan bukti keberadaan, keesaan dan kekuasaan-Nya.

       Dalam masalah Zat Allah muncul pendapat yang menggambarkan Allah dengan sifat-sifat bentuk jasmani/fisik. Golongan yang menggambarkan Allah dengan bntuk jisim disebut golongan Mujassimah (orang-orang yang menjisimkan) Allah.

  1. 2.    Sifat-sifat Allah

       Dalam masalah sifat-sifat Allah muncul persoalan yang diikhtilafkan, yakni apakah Allah itu mempunyai sifat-sifat atau tidak. Dalam hal itu, secara garis besar muncul dua golongan pendapat:

1)      Golongan yang berpendapat bahwa Allah tidak mempunyai sifat-sifat. Dia adalah Esa, bersih dari hal-hal yang menjadikan tidak Esa. Mereka mengesakan Allah dengan mengosongkan Allah dari berbagai sifat-sifat. Golongan ini disebut Mu’atilah yang diwakili oleh golongan Mi’tazilah.

2)      Golongan yang brpendapat bahwa Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna. Sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah tidak ada yang menyam ai-Nya. Mensifati Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan tidak akan mengurangi ke-Esaan-Nya. Golongan ini disebut Asy’ariyah dan   Maturidiah yang diwakili oleh golongan Ahlus Sunnah wa Jamaah.[3]

 

            Sifat Allah ada 20 macam yaitu:

Sifat Wajib Arti Sifat Sifat Mustahil Arti

Wujud

Ada Nafsiah Adam Tiada
Qidam Dahulu Salbiah Huduts Baru
Baqa Kekal  Salbiah Fana Berubah-ubah (akan binasa)
Mukhalafatuhu lilhawadith Tidak meyerupai sesuatu Salbiah Mumathalatuhu lilhawadith Menyerupai sesuatu
Qiyamuhu binafsih Berdiri-Nya dengan sendiri Salbiah Qiamuhu bighairih Berdiri-Nya dengan yang lain
Wahdaniyat Esa (satu) Salbiah Ta’addud Lebih dari satu (berbilang)
Qudrat Kuasa Ma’ani Ajzun Lemah
Iradat Berkehendak (berkemauan) Ma’ani Karahah Tidak berkemauan (terpaksa)
Ilmun Mengetahui Ma’ani Jahlun Bodoh
Hayat Hidup Ma’ani Al-Maut Mati
Sam’un Mendengar Ma’ani Sami Tuli
Basar Melihat Ma’ani Al-Umyu Buta
Kalam Berbicara Ma’ani Al-Bukmu Bisu
Kaunuhu qaadiran Keadaan-Nya yang berkuasa Ma’nawiyah Kaunuhu ajizan Keadaan-Nya yang lemah
Kaunuhu muriidan Keadaan-Nya yang berkehendak menentukan Ma’nawiyah Kaunuhu mukrahan Keadaan-Nya yang tidak menentukan (terpaksa)
Kaunuhu ‘aliman Keadaan-Nya yang mengetahui Ma’nawiyah Kaunuhu jahilan Keadaan-Nya yang bodoh
Kaunuhu hayyan Keadaan-Nya yang hidup Ma’nawiyah Kaunuhu mayitan Keadaan-Nya yang mati
Kaunuhu sami’an Keadaan-Nya yang mendengar Ma’nawiyah Kaunuhu ashamma Keadaan-Nya yang tuli
Kaunuhu bashiiran Keadaan-Nya yang melihat Ma’nawiyah Kaunuhu a’maa Keadaan-Nya yang buta
Kaunuhu mutakalliman Keadaan-Nya yang berbicara Ma’nawiyah Kaunuhu abkam Keadaan-Nya yang bisu[4]

          Dari dua puluh sifat Allah yang wajib, dapat  digolongkan menjadi  empat kategori, yakni:

  1. I.                   Sifat Nafsiyyah

            Nafsiyyah adalah sifat WujudNya AllahSWT, dengan maksud bahwa wujudnya Allah itu adalah tetap pada DzatNya Allah dan bukan tambahan dari Dzat. Maka wajib bagi Allah bersifat Wujud, mustahil Allah bersifat  tidak ada (Adam).

            Sifat wajib Allah yang masuk kategori sifat ini yakni cuma satu sifat, yaitu sifat  Wujudnya Allah. Yang berarti bahwa itu ada. Maka mustahil jika Allah memiliki sifat adam (tidak ada).

  1. II.                 Sifat Salbiyyah

            Adapun yang termasuk dalam golongan sifat-sifat salbiah yaitu :

  1. 1.      Qidam

Sifat Qidam menolak adanya permulaan bagi Allah SWT. dengan kata lain, bahwa Allah SWT adalah Maha Awwal yakni Maha Dahulu (Qidam). Arti dari keMaha Awwalannya ini ialah bahwa Allah SWT adalah tidak ada permulaan bagi wujudNya. Jadi wujud atau adanya Allah Ta’ala itu tidak pernah didahului oleh ketiadaan sebelumnya.

 

  1. 2.      Baqa’

Sifat Baqa` menolak adanya kesudahan dan kebinasaan Wujud Allah SWT, mustahil bagi Allah bersifat Fana` atau binasa. Dengan kata lain, bahwa Allah tidak pernah dihinggapi oleh kerusakan atau kebinasaan, sebab Allah Ta’ala itu memang wajibul wujud yakni wajib adaNya.

 

  1. 3.      Mukhallafatul lilhawaditsi

Sifat yang menolak adanya persamaan Zat, Sifat dan Perbuatan Allah dengan Zat, sifat dan perbuatan baru, dengan makna lain bahwa Allah tidak seperti makhluknya.

 

 

  1. 4.      Qiyamuhu binafsihi

Sifat ini menolak adanya Allah berdiri dengan yang lainnya. Dengan makna lain bahwa Allah itu Maha Berdiri sendiri dan atas kekuasaanNya pulalah tegaklah langit dan bumi ini.

 

  1. 5.      Wahdaniyat

Andaikan di langit dan di bumi ada lagi Tuhan selain Allah Ta’ala yang ikut-ikut mengatur dan memikir-mikirkan keadaan dan keamanan serta kesejahteraannya, maka sudah tentu akan morat-maritlah keadaan susunannya, karena kedua Tuhan itu akan berebut dalam melaksanakan kebijaksanaannya sendiri-sendiri yang tentunya antara satu dengan yang lainnya akan bertentangan. Jikalau masing-masing sudah ingin melebihi dari yang lainnya, ingin mengatur sendiri, ingin berkuasa sendiri, ingin berkuasa sendiri dan ingin lebih unggul, maka tidak ada lain yang akan terjadi kecuali kehancuran dan kebinasaan.

Sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam S. Mu’minun ayat 91 yang artinya :

91.  Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,

  1. III.             Sifat Ma’ani

            Adapun yang termasuk dalam golongan sifat-sifat ma’ani yaitu :

  1. 1.      Qudrat

Allah Ta’ala itu adalah Maha Kuasa, tidak lemah sedikitpun untuk melakukan sesuatu. Apa yang tampak di alam semesta ini. Tidak lain hanyalah sebagai penjelmaan  atau pengejawantahan dari sifat kuasa dan agungnya Allah Ta’ala juga.

  1. 2.      Iradat

Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah Maha Berkehendak.Maksudnya Allah menentukan sesuatu yang mungkin dengan sebagian dari apa yang pantas berlaku untuknya.

     Sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam S. Nahl ayat 40 yang artinya :

40.  Sesungguhnya perkataan kami terhadap sesuatu apabila kami menghendakinya, kami Hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, Maka jadilah ia.

  1. 3.      Ilmun

Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu baik sesuatu yang lampau terjadi, yang sedang terjadi ataupun yang akan terjadi.

Allah Ta’ala tidak pernah dihinggapi oleh kelupaan dan bahkan mengetahuiNya itu tidak dibatasi dengan masa atau tempat.

  1. 4.      Hayat

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Hidup. Hidupnya Allah  Ta’ala adalah kehidupan yang amat sempurna sekali, bahkan tidak ada suatu kehidupan yang mendekati kesempurnaan daripada kehidupan yang dimiliki olehNya.

Sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam S. Furqan ayat 58 yang artinya

58.  Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.

 

  1. 5.      Sam’un

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Mendengar. Jadi dapat mendengar segala sesuatu yang maujud ini,sampaipun feraknya seekor semut hitam yang berjalan diatas batu licin pada malam yang amat gelap gulita.

  1. 6.      Basar

Sebagaimana halnya Allah Ta’ala itu dapat mendengar segala sesuatu yang maujud ini, maka Diapun dapat pula melihat semuanya dengan cara penglihatan yang mengandung pengertian seluas-luasnya, tetapi penglihatan Allah Ta’ala ini tidaklah dengan menggunakan mata, orang-orangan mata dan lain-lain sebagainya seperti cara melihatnya manusia atau lain-lain.

  1. 7.      Kalam

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Berfirman. Tetapi cara berfirman Allah tidak dengan dengan huruf ataupun suara. Adapun yang tertulis dan selalu kita baca di atas mas-haf hanyalah gambaran dari kalam Allah.

Sifat kesempurnaan

Dua puluh sifat yang tertera di atas yang wajib bagi Allah terkandung di dalam dua sifat kesempurnaan. Sifat tersebut adalah:

  1. 1.    Istigna’

Kaya Allah daripada sekalian yang lain daripada-Nya yaitu tidak berkehendak ia kepada sesuatu. Maksudnya, Allah tidak menghendaki yang lain menjadikan-Nya dan tidak berkehendakkan tempat berdiri bagi zat-Nya.

Sifatnya: wujud, qidam, baqa’, mukhalafatuhu lilhawaditsi, qiyamuhu binafsihi, sama’, basar, kalam, kaunuhu sami’an, kaunuhu basiran, kaunuhu mutakalliman.

2.       Iftiqar

Yaitu yang lain berkehendak kepada Allah untuk menjadikan dan menentukan perkara yang mereka ingin dan butukan. Contohnya, manusia memohon kepada Allah melancarkan hidupnya.

Sifatnya: wahdaniat, qudrat, iradat, ilmnu, hayat, kaunuhu qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu hayyan.[5]

  1. D.      Syahadat dan pembahaginnya

Syahadat berasal dari kata syahida – yasyhadu – syahadatan – syahidun, artinya menyaksikan. Pelakunya disebut syahid atau orang yang menyaksikan. Jadi, syahadat berarti penyaksian terhadap sesuatu. Menurut istilah syara’, syahadat artinya penyaksian kesadaran manusia, bahwa di alam raya ini tidak ada Tuhan melainkan Allah SWT. Kalimat penyaksian tersebut tersimpul dalam kalimat syahadat, yaitu la ilaha illallah. Apabila seseorang dengan kesadaran mengucapkan kalimat tersebut ditambah dengan kalimat syahadat kepada Rasul- Nya, yaitu Muhammad Rasulullah, maka orang tersebut telah memproklamasikan diri masuk Islam resmi dan sah. Sejak dari pengucapan kesaksian itu, seluruh amal perbuatannya dinilai oleh Allah sebagai seorang muslim atau mukmin. Sejak itu pula mulai berlaku syariat Islam pada dirinya dan wajib mempertahankan nilai-nilai Islam yang diajarkan oleh Allah, hingga detik-detik terakhir dalam hidupnya, tidak mau tunduk takluk dengan peraturan atau hukum selain hukum Allah, apapun resiko yang harus diterima untuk mempertahankan nilai-nilai yang terkandung dalam dua kalimat syahadat tersebut.

Syahadat terbagi dua:

A.    Syahadat Tauhid

Syahadat tauhid itu shadat yang berisi tentang openyaksian terhadap Tuhan, syahadat ini memiliki beberapa pembagian didalam pemaknaannya yakni:

  1. 1.      Tidak ada pemilik selain allah (La Malika IllAllah)

Alam raya dan semua isinya diciptakan oleh allah dan semua keperluan hidupnya dicukupi oleh allah, dengan sendirinya semua ini adalah milik Allah. Allah pemilik pemilik semesta raya dengan segala isinya yang ada di dalamnya, yang terdiri dari benda hidup dan mati.

  1. 2.      Tidak ada walli selain Allah (La Walli IllaAllah)

Wali dalam al-Qur’an memiliki banyak arti dan maksudnya, antara lain pemimpin, pelindung, atau teman hidup. Karenanya, kalimat la wali illaAllah adalah tidak ada pemimpin yang harus ditaati kecuali allah. Tidak ada pelindung yang dapat melindungi kecuali allah. Tidak ada teman hidup yang sebenarnya kecuali Allah.

 

  1. 3.      Tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah (La ma’buda bi Haqqin IllaAllah)

Seluruh kehidupan manusia adalah dalam rangka menghambakan diri kepadaNya. Tidak ada hidup dan kehidupan ini kecuali hanya pengabdian diri kepada Allah. Oleh karena itu, barang siapa dihidupkan oleh Allah di dunia ini tanpa mengabdikan diri kepadaNya, berarti tidak ada hidup baginya. 

  1. 4.     Tidak ada pemberi rizqi selain Allah (La Raziqa IllaAllah)

Sebagai pencipta tunggal alam semesta raya, Dia mencukupi keperluan hidup kehidupan mereka. Dialah satu-satunya yang memberikan rizqi kepada mereka.

  1.  5.      Tidak ada hakim selain Allah (La Hakima IllaAllah)

Hakim satu-satunya yang akan mengadili dan menghukum manusia hanyalah Allah SWT. Tidak ada hakim selain Dia. Hakim Allah inilah yang paling adil di antara hakim-hakim lainnya.

  1. 6.      Tidak ada hukum selain Allah (La Hukma IllaAllah)

Hukum Allah Ta’ala yang telah berjalan sejak lama sampai saat ini yakni ada tiga macam, yaitu :

  1. Hukum Akal

Yakni suatu keputusan yang diambil berdasarkan akal sehat terhadap suatu perkara. Hasil keputusan berdasarkan akal ini ada tiga keputusan yaitu : wajib, jaiz, dan mustahil.

  1. Hukum Adat

Yakni suatu keputusan atau ketentuan apapun terhadap sesuatu berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi, atau berdasarkan adat kebiasaan. Keputusan yang diambil berdasarkan adat ini juga ada tiga macam yaitu : wajib, jaiz, dan mustahil.

  1. Hukum Syara’

Yakni hukum yang berlaku atas dasar syara’ atau syari’at Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan as-sunnah yanbg shahih, yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Hukum syara’ menurut ahli fiqih ada lima macam, yaitu : wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah.

  1. 7.      Tidak ada penguasa selain allah (La Mulka IllaAllah)

Allah pemilik alam semesta raya dan sekaligus yang menguasainya, tidak ada penguasa selain dia, tidak sebutir atompun yang lepas dari kekuasaanNya, semuanya dalam genggaman kodratNya. kekuasaanNya benar-benar mutlak, absolut tidak ada satupun yang turut campur dalam kekuasaanNya.

  1. 8.      Tidak ada cinta selain Allah (La Hubba IllaAllah)

Hanya orang-orang berimanlah yang memahami arti La Hubba IllaAllah, tidak ada cinta, kecuali benar-benar mencintai Allah. Sebab, ia sadar dan mengerti bahwa hidup dan kehidupan serta cinta itu sendiri adalah pemberian Allah dan ciptaanNya. Perasaan cinta yang amat indah itu adalah pemberian dan karunia Allah yang amat besar kepada mahlukNya terutama mahluk yang bernama manusia.

  1. 9.      Tidak ada tujuan selain Allah (La Ghayata IllaAllah)

Manusia diciptakan oleh Allah adalah memiliki tujuan tertentu. Tujuan itu adalah mengabdikan siri sepenuhnya kepada Allah dengan mengharap ridhaNya.

  1. B.     Syahadat Rasul

Selanjutnya, jumhurul ulma’ juga berusaha semaksimal mungkin mengubah seluruh struktur kehidupan yang belum berjalan di atas dua jalan rel Allah yaitu kalimat syahadat. Usaha memperbaiki dan mengembalikan struktur kehidupan, yang tidak sesuai dengan konsepsi la ilaha illallah Muhammadar Rasulullah agar kembali kepada kalimat tersebut, dikatakan mengesakan Allah atau mentauhidkan Allah.

  1. C.   Tauhid dan pembagiannya

Tauhid adalah keesaan Allah, seorang muslim meyakini bahwa tauhid adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar, dan merupakan salah satu syarat diterimanya amal perbuatan di samping harus sesuai dengan tuntutan Rasulullah SAW.

Allah SWT adalah satu-satunya ma’bud (yang ditujukan ibadah kepadaNya). Tidak ada ma’bud selainNya, dan sama sekali tidak dibolehkan adanya ibadah kepada sesuatu apapun selainNya. Pengertian seperti itu semuanya, dilandaskan olehAl-Qu’ran As-sunnah, akal dan ijma’.[6]

 

Pembagian Tauhid

Ruang lingkup tauhid akan dibagi menjadi tiga, yakni :

  1. Tauhid Rububiyah

Yaitu mempercayai keesaan Al-khaliq (Sang pencipta saja) tidak cukup meliputi tauhid yang dibawa oleh para Nabi pada umumnya, untuk dimantapkan dan disebarluaskan dalam masyarakat-masyarakat manusia.

Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya tuhan yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.

Namun pengakuan seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi Rosululloh mengakui dan meyakini jenis tauhid ini.

  1. Tauhid Uluhiyah

Yaitu dengan menghususkan Allah saja dalam hal ibadah, dan tidak menyekutukanNya dengan beribadah  kepada selainNya.

Beriman terhadap uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyahNya. Mengesakan Allah dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti shalat, do’a, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dimana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Allah semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para Rasul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy.

  1. Asma wa Sifat

Tauhid Al Asma Was Shifat adalah mengesakan Allah SWT, dengan menetapkan nama yang telah Allah SWT, tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya SAW. Menetapkan sifat yang telah Ia tetapkan untuk diri-Nya, atau yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya, tanpa mentakyif (mereka-reka atau menanyakan bagaimana), menyerupakan, memalingkan (baik lafadz maupun makna) dan tidak pula menta’thil (menolak, meniadakan).

Demikianlah penjelasan tentang tauhid yang tiga, sebagian ulama menambahkan tauhid yang keempat yaitu:

  1. Tauhid Al Mutaba’ah (Tauhid Pengikutan)

Maknanya kita hanya mengikuti Rasulullah SAW dalam ittiba’ (pengikutan), tidaklah kita mengikuti orang selain Rasulullah SAW dengan pengikutan yang jujur.

Sesuai dengan firman Allah Ta’ala S. Hasyr ayat 7 yang artinya :

  1. 7.  . . . Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

===================================================================================

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

     Didalam mempelajari sifat dua puluh yang wajib bagi Allah, kita menghadapi beberapa istilah yang tertulis di sebagian kitab-kitab Tauhid, istilah-istilah ini adalah kategori sifat-sifat dua puluh yang telah  dijelaskan oleh para ulama, dari dua puluh sifat Allah yang wajib, sesuai dengan tabel di atas dapat  digolongkan menjadi  empat kategori, yakni (1) Sifat Nafsiyyah, (2) Sifat Salbiyyah ( 3 ) Sifat Ma`ani ( 4 ) Sifat Maknawiyyah.

     Syahadat mengandung arti penyaksian. Syahadat yang biasanya kita kenal yakni berbunyi : ASYHADU ALLA ILAHA ILALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADDAR  RASULULLAH.

  1. Saran

Dalam pembuatan makalah ini apabila ada keterangan yang kurang bisa dipahami, penulis mohon maaf yng sebesar-besarnya dan penulis sangat brterimakasih apabila ada saran/kritik yang bersifat membangun sebagai penyempurna makalah ini.

===================================================================================

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad. Tauhid Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia, 1998

Diktat mata pelajaran aqidah akhlak

Ibnu Qayyim, Asmaul- Husna, Jakarta:Al-kautsar,2000

Http//www.wikipediaid.com/syahadat-dan-pembagiannya/

Mansyur Kahar , Membina islam dan iman, Jakarta :Kalam Mulia,1988

Qadir Abdul. Asas dan Tujuan Hidup Manusia Menurut Ajaran Islam, (Surabaya : PT. Bina Ilmu, 1996

Zainudin.Ilmu Tauhid Lengkap, Jakarta :PT rineka cipta,1992


[1] Muhammad Ahmad. Tauhid Ilmu Kalam, (Bandung: Pustaka Setia, 1998)

[2] Abdul Qadir. Asas dan Tujuan Hiup Manusia Menurut Ajaran Islam, (Surabaya : PT. Bina Ilmu, 1996)hal 42-43

[3] Muhammad Ahmad, opcit. hal 128-129

[4] Kahar mansyur , Membina islam dan iman, (Jakarta :Kalam Mulia,1988 )hal 101-103.

[5] Ibnu Qayyim, Asmaul- Husna, (Jakarta:Al-kautsar,2000)hal261-265

[6] Diktat mata pelajaran aqidah akhlak.hal 22-24

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s