MAKALAH HADITS : PEDULI LINGKUNGAN


MAKALAH

HADITS

Tentang

PEDULI LINGKUNGAN

 

 Lambang IAIN Bagus

 

Di Susun Oleh :

Yessy Azwarni

Inti Sari Puspita Dewi

Pembibing :

Dra. Delyati, BN. M.A.

 

 

 

 

JURUSAN TADRIS MATEMATIKA B FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

IMAM BONJOL PADANG

1434 H/2013 M

=========================================================================

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr wb

Puji dan syukur penusil ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Dan yang telah mengahsilkan pemikiran sehingga penulis dapat menulis makalah Hadits ini yang materinya Peduli Lingkungan.

Dan shalwat berserta salam kita haturkan kepada nabi Muhammad SAW, yang telah memberantas kebatilan dipermukaan bumi ini.

Makalah ini disusun untuk keperluan presentasi di kampus dalam mata kuliah Hadits dan diharapkan dapat menjadi panduan kami dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Adapun materi yang terkandung dalam makalah ini bersumber dari buku-buku Hadits. Meskipun awalnya hanya untuk keperluan presentasi kami, namun makalah ini dapat menjadi panduan mahasiswa lain dalam mata kuliah Hadits mengenai Peduli Lingkungan.

Walaupun makalah ini dibuat secara kelompok dan bersumber dari berbagai buku yang berkenaan dengan Hadits namun kami sangat menyadari kemungkinan terdapat kesalahan mengenai isi maupun cara penulisannya, oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis meminta maaf dan mengharapkan koreksi dari dosen, teman-teman serta pembaca yang budiman, semoga makalah ini bermanfaat.

Penulis, 15 Maret 2013

=========================================================================

PEDULI LINGKUNGAN

  1. A.    Larangan Menelantarkan Lahan

حَدِيْثُ جَابِرِبْنِ عَبْدِ اللهِ ر.ع. قَالَ : كَا نَتْ لِرِ جَالٍ مِنَّاَ فُضُوْ لُ أَرَضِيْنَ, فَقَالُوْا : نُؤَا جِرُهَا بِا لُثُّلُثِ وَ الرُّ بُعِ وَالنِّصْفِ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص.م. : مَنْ كَا نَتْ لَهُ أَرْضُ فَلْيَزْرَعْهَا أَوْلِيَمْنَحْهَا أَخَاهُ فَاءِنْ أَبَى فَلْيَمْسِكْ أَرْضَهُ.

Artinya :

“Jabir bin Abdullah berkata, “Dahulu ada beberapa orang memiliki beberapa tanah lebih, lalu mereka berkata, “Lebih baik kami sewakan hasilnya sepertiga, seperempat, atau separuh.” Tiba-tiba Nabi SAW. bersabda, “Siapa yang memiliki tanah, maka hendaknya di Tanami atau diberikan kepada kawannya. Jika tidak diberikan, tahan saja.” (Bukhari, kitab “Hibah”, bab : “Keutamaan Manihah”)

حَدِيْثُ أَبِى هُرَيْرَةَ ر.ع. قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. مَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا أَوْلِيَمْنَحْهَا أَخَاهُ فَاءِنْ أَبِى فَلْيُمْسِكْ أَرْضَهُ.

Artinya :

“Abu Hurairah r.a berkata bahwa Nabi SAW. bersabda, ‘Siapa yang memiliki tanah, hendaknya menanaminya atau memberikannya kepada saudaranya, jika tidak, boleh menahannya.” (Imam Bukhari, kitab “Pertanian”, bab : “Para Sahabat Menolong  Sebagian kepada Sebagian yang Lain dari Sahabat Nabi”)

حَدِيْثُ أَبِى هُرَيْرَةَ ر.ع. أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص.م. قَالَ : لَا يُمْنَعُ فَضْلُ الْمَاءِ لِيُمْنَعَ بِهِ الْكَلَاُ.

Artinya :

“Abu Hurairah berkata, Nabi SAW. bersabda, ‘Tidak boleh ditahan (ditolak) orang yang meminta kelebihan air, yang akan mengakibatkan tertolaknya kelebihan rumput.” (Bukhari, kitab “Al-Masafah” bab : “Orang  yang Berkata bahwa Pemilik Air Lebih Berhak Memiliki Air”)[1]

            Penjelasan hadits :    

Dari ketiga hadits di atas dapat diketahui bahwa Islam  melarang umatnya menelantarkan tanah garapan dan harus memberikan  kelebihan air agar tanah orang lain pun dapat dipelihara.

  1. 1.      Larangan menelantarkan tanah[2]

Islam sangat menghargai tanah yang merupakan  karunia Allah SWT. Jika orang yang memiliki tanah luas, namun tidak sanggup mengurusi atau memanfaatkan  tanahnya dengan tanaman  yang bermanfaat, ia harus menyerahkan tanah, baik dengan cara menghibahkannya atau menyewakan kepada orang lain yang memilki waktu luang untuk menggarap tanah tersebut.

Seseorang yang d iberi karunia oleh Allah SWT. berupa tanah misalnya, harus berusaha untuk memanfaatkannya, agar dapat menghasilkan sesuatu untuk bekal ibadah kepada-Nya. Jika tidak, ia dapat dikategorikan  sebagai orang yang kufur nikmat, dan diancam oleh Allah SWT. dengan siksaan yang berat. Sebagaimana  firman-Nya dalam  surat Ibrahim ayat 7 :

Artinya:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Salah satu cara agar  tanah tersebut tetap bermanfaat adalah dengan  menyewakan kepada orang lain atau memberikannya. Dengan demikian, di samping tidak menelantarkan tanah, pemiliknya juga telah menolong orang lain dengan memberinya pekerjaan.

Mereka yang tidak mau menyewakan atau memberikan tanahnya kepada orang lain, diperintahkan oleh Rasulullah SAW. untuk menahan tanah tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan lingkungan dan kemaslahatan bagi umatnya.

  1. 2.      Memberikan kelebihan air kepada orang lain

Air sangat penting dalam kehidupan manusia. Begitun pula dalam menggarap tanaman karena air yang  teratur  sangat berpengaruh terhadap hasil tanaman. Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki keebihan air memberikan kelebihan air tersebut kepada orang lain.

Perbuatan seperti itu tentu saja sangat terpuji karena telah memberikan kemudahan kepada orang lain, sekaligus lebih mempererat persaudaraan di antara mereka. Sebaliknya apabila ia kikir, tidak mau memberikan sebagian airnya yang lebih, hal itu memicu pertengkaran yang tidak mustahil  akan menimbulkan korban. Keadaan seperti itu banyak terjadi di masyarakat, padahal menurut sebagian ulam fiqih, air bukan milki siapapun meskipun berada pada tanahnya dan Rasulullah SAW. melarang untuk menjualnya.[3]

Dalam menyikapi larangan Rasulullah SAW. tersebut, para ulama memiliki perbedaan  pendapat, antara lain sebagai berikut :

  1. Ada yang  berpendapat bahwa larangan menjual air lebih tersebut bukanlah haram, tetapi hanya larangan tanjih (larangan untuk membersihakn).
  2. Ada yang berpendapat bahwa larangan tersebut haram hukumnya. Ini kalau kelebihan air tersebut diperuntukkan untuk menumbuhkan rumput bagi binatang ternak di lapangan, padahal rumput sendiri huumnya mubah. Jadi, menurut mereka dapat dianalogikan bahwa orang  yang  menjual kelebihan air sama dengan menjual lapangan tersebut yang dimubahkan bagi siapa saja.
  1. B.     Penanaman Pohon Merupakan Langkah Terpuji

حَدِيْثُ أَنَسٍ ر.ع. قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِ سُ غَرْسًا أَوْيَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ اِنْسَانُ أَوْبَهِيْمَةُ اِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَ قَةٌ.

Artinya :

“Anas r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Tiada seorang muslim pun yang menanam tanaman kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang lainnya melainkan tercatat untuknya sebagai sedekah.” (Bukhari, kitab “Pertanian”, bab : “Keutamaan Menanam dan Makanan dari Tanaman Tersebut”)

Penjelasan hadits :

Hadits di atas mengandung anjuran agar semua manusia, khususnya umat Islam, menanam tanaman yang berguna, baik bagi  manusia maupun binatang. Apabila tanaman tersebut telah berbuah dan dimakan oleh manusia  atau pu binatang, maka dia akan mendapat pahala sedekah dari setiap buah yang dimakan, sekalipun buah tersebut dicuri.

Hal itu menggambarkan betapa Islam sangat menghargai usaha manusia untuk memakmurkan dan memanfaatkan  tanah. Karena tanaman yang ditanam pasti akan bermanfaat bagi manusia maupun bagi makhluk-makhluk Allah lainnya. Maka setiap orang hendanya tidak boleh egois, yakni menanam tanaman untuk dinikmati sendiri. Jika cara berpikirnya seperti itu, orang yang sudah tua dipastikan tidak akan mau menanam tanaman karena ia merasa tidak akan mungkin memakan buahnya. Seyogianya ia berpikir bahwa manfaat darsebuah tanamn tidak hanya buahnya,  tetapi pahala yang akan diterimanya apabila buah dari tanaman tersebut dimakan oleh manusia atau binatang.

Perbuatan seperti itu akan membawa kemaslahatan, baik untuk tanah dirinya, orang lain, dan binatang apalagi jika tanman tersebut merupakan tanaman yang buahnya sangat disukai oleh manusia dan binatang.

Hadits di atas juga mengandung anjuran untuk berbuat baik kepada semua makhluk Allah SWT. Dengan menanam  pohon, berarti dia telah memberiakan tempat kepada binatang untuk hinggap atau  tempat bertengger dan mendapatkan sumber makanan ketika  pohon tersebut berbuah.

  1. C.    Larangan Kencing Di Air Tergenang

وزادابوداودعن معاذ رضي الله عنه الموارد. ولفظه اثقواالملاعن الثلاث:البرازفى المواردوقارعةالطريق والظل.

Artinya :

“Abu Daud dari Mu’az r.a. menambahkan lafal “al mawa-rid” (tempat aliran air); Dan lafal (selengkapnya) : Sucikanlah dirimu dari tiga tempat menyebabkan kutukan, yaitu berak di tempat-tempat aliran air, di jalan raya dan tempat berteduh.”[4]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَة ر.ع. قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. : لَا يَبُوْ لَنَّ أَحَدُ كُمْ فِى الْمَاءِ الدَّا ئِـِم الَّذِيْ يَجْرِىْ ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيْهِ.

Artinya :

“Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Janganlah seseorang di antara kamu buang air kecil di air diam yang tidak mengalir, kemudian ia mandi pada air tersebut.” (H.R. Bukhari)[5]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ عَنِ النَّبِيِّ ص.م. قَالَ : [لَا يُنْقَعُ] بَوْلٌ فِى طَسْتٍ فَإِنَّ الْمَلَا ئِـكَةَ لاَ تَدْجُلُ بَيْنًا فِيْهِ بَوْلٌ مُنْتَقَعْ, وَلَا تَبُوْ لَنَّ فِيْ مُغْتَسَلِكَ.

Artinya :

Dari Abdullah bin Zaid, dari NAbi SAW, beliau bersabda, “Tidak boleh dikumpulkan air kencing di dalam tempat air di rumah, karena malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada air kencing yang dikumpulkan dan janganlah kamu kencing di air tempat kamu mandi.” (H.R. Ath-Thabrani)[6]

Penjelasan hadits :

Lafal “Albiraz” itu berarti tempat atau tanah lapang luas. Lafal “al mawarid” berarti tempat yang selalu didatangi atau dikunjungi orang seperti tempat mata air atau sungai, untuk keperluan minum air itu atau untuk keperluan berwudlu’.

Menurut Ahmad dari Ibnu Abbas r.a. ada tambahan kata di tempat tergenang air. Lafal tersebut, sesudah lafal Hadits di atas, yang lafal lengkapnya :

اتقواالملاعن الثلاث : ان يقعداحدكم فى ظل يستظل به اوفى طريق او فى ماء.

Artinya :

“Sucikanlah dirimu dari tempat yang menyebabkan kutukan, yaitu pada tempat duduknya seseorang dari kamu, di tempat naungan untuk berteduh, atau di jalan atau di tempat tergenang air.”

Lafal “Naq’ul Ma’I” itu, berarti air yang tergenang sebagaimana dijelaskan di dalam kitab “An Nihayah”.[7]

Sedangkan hadits Abu Hurairah :

النَّهْيُ عَنِ البَوْلِ فِي المَاءِ الرَّاكَدِ.

Artinya :

“Larangan kencing di air tenang.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih). Dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Jabir dan Ath-Thabrani di dalam Al Ausath dengan lafazh,

الْمَاءُ الْجَارِي.

Artinya :

“Air yang mengalir.”

Lafazh La Yunqa’ artinya tidak dikumpulkan dan air  yang  naqi’ yaitu air yang berkumpul.[8]

Air yang diam ( tidak mengalir) menampung apa saja yang masuk ke dalamnya, baik kotoran ataupun najis. Apabila air tersebut di pakai oleh orang banyak, maka, buang air kecil di tempat tersebut, dapat dipastikan akan menyebabkan air tersebut menjadi kotor atau  mengandung najis. Tentu saja apabila dipakai mandi, bukannya akan membersihkan badan melainkan akan menyebabkan najis dan mendatangkan penyakit.[9]

Oleh karena itu, sebaiknya sebelum buang air kecil dilihat dahulu apakah air tersebut banyak sehingga tidak akan berpengaruh terhadap air tersebut, ataukah sedikit sehingga akan menyebabkan air tersebut menjadi najis. Sebaiknya air tersebut dikhususkan untuk mandi saja, sedangkan untuk buang air kecil dapat dilakukan di tempat lain yang dikhususkan untuk itu.[10]

Dengan demikian, kesehatan dan kebersihan sangat dipentingkan dalam Islam, dan kesucian dari najis merupakan salah satu syarat sahnya shalat, yang merupakan tiang agama. Selain itu, orang bersih pun akan disukai oleh siapa saja. Karena pada prinsipnya manusia menyukai hal-hal  yang  bersih dan indah. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 222 :

Artinya:

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku Telah melabihkan kamu atas segala umat.


[1] Rachmat Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), h.263

[2] Rachmat Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), h.265

[3] Rachmat Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), h.267

[4] Abubakar Muhammad, Subulus Salam, (Srabaya,:Al Ikhlas,), h.203

[5] Rachmat Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), h.271

[6] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ringkasan Targhib wa Tarhib, (Jakarta:Pustaka Azzam,2006), h.37

[7] Abubakar Muhammad, Subulus Salam, (Srabaya:Al Ikhlas,), h.204

[8] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ringkasan Targhib wa Tarhib, (Jakarta:Pustaka Azzam,2006), h.37

[9] Rachmat Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), h.272

[10] Rachmat Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), h.272’

=========================================================================

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Islam  melarang umatnya menelantarkan tanah garapan dan harus memberikan  kelebihan air agar tanah orang lain pun dapat dipelihara.

Anjuran agar semua manusia, khususnya umat Islam, menanam tanaman yang berguna, baik bagi  manusia maupun binatang. Apabila tanaman tersebut telah berbuah dan dimakan oleh manusia  atau pu binatang, maka dia akan mendapat pahala sedekah dari setiap buah yang dimakan, sekalipun buah tersebut dicuri.

Sebaiknya sebelum buang air kecil dilihat dahulu apakah air tersebut banyak sehingga tidak akan berpengaruh terhadap air tersebut, ataukah sedikit sehingga akan menyebabkan air tersebut menjadi najis. Sebaiknya air tersebut dikhususkan untuk mandi saja, sedangkan untuk buang air kecil dapat dilakukan di tempat lain yang dikhususkan untuk itu.

  1. Saran

Berkat petunjuk dan pertolongan Allah SWT, Alhamdulillah makalah ini dapat diselesaikan. Namun, penulis mengakuai bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan. Untuk itu, penulis mengharapakan kritik dan saran yang membangun dari semuanya, terutama kepada dosen Pembimbing demi tercapainya kesempurnaan makalah ini.

Gambar
ini yg py blog lho,,,,, ^_^
mohon tinggalkan comentnya ya,,,,,,,
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

11 Balasan ke MAKALAH HADITS : PEDULI LINGKUNGAN

  1. dinda berkata:

    nhun izin copas nyonya…..thks….

    Suka

  2. Hasan Qosim berkata:

    yang nulis cantik😀

    Suka

  3. melly anggraini berkata:

    makasih ya, aku jadi gak sulit ..🙂

    Suka

  4. muhammad kholiili berkata:

    makasih izin copy yhhaaaa

    Disukai oleh 1 orang

  5. IRWAN FAUZI berkata:

    terima kasih… ^_^ sangat bermanfaat…

    Suka

  6. IRWAN FAUZI berkata:

    terima kasih… sangat bermanfaat.. yg punya blog cantik deh.. ^_^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s