MAKALAH HADITS : PENELITIAN RASULULLAH TERHADAP SYAIR


MAKALAH

HADITS

Tentang

PEDULI LINGKUNGAN DAN

PENELITIAN RASULULLAH TERHADAP SYAIR

 

 Lambang IAIN Bagus

Di Susun Oleh :

Yessy Azwarni

Inti Sari Puspita Dewi

Pembibing :

Dra. Delyati BN, M.A.

 

 

JURUSAN TADRIS MATEMATIKA B FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

IMAM BONJOL PADANG

1434 H/2013 M

————————————————————————————————————————————————————————

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr wb

Puji dan syukur penusil ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Dan yang telah mengahsilkan pemikiran sehingga penulis dapat menulis makalah Hadits ini yang materinya Penelitian Rasulullah Terhadap Sya’ir.

Dan shalwat berserta salam kita haturkan kepada nabi Muhammad SAW, yang telah memberantas kebatilan dipermukaan bumi ini.

Makalah ini disusun untuk keperluan presentasi di kampus dalam mata kuliah Hadits dan diharapkan dapat menjadi panduan kami dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Adapun materi yang terkandung dalam makalah ini bersumber dari buku-buku Hadits. Meskipun awalnya hanya untuk keperluan presentasi kami, namun makalah ini dapat menjadi panduan mahasiswa lain dalam mata kuliah Hadits mengenai Penelitian Rasulullah Terhadap Sya’ir.

Walaupun makalah ini dibuat secara kelompok dan bersumber dari berbagai buku yang berkenaan dengan Hadits namun kami sangat menyadari kemungkinan terdapat kesalahan mengenai isi maupun cara penulisannya, oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis meminta maaf dan mengharapkan koreksi dari dosen, teman-teman serta pembaca yang budiman, semoga makalah ini bermanfaat.

Penulis, 15 Maret 2013

————————————————————————————————————————————————————————

PENELITIAN RASULULLAH TERHADAP SYAIR

  1. a.      Pengertian syair

Kata sya’ir atau syi’ir (الشعر) menurut etimologi berasal dari kata ‘شعر اوشعر’ yang berarti mengetahui atau merasakan. Adapun menurut terminology terdapat beberaapa pendapat diantaranya:

“Suatu kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama dan sajak yang mengungkapkan tentang khayalan dan imajinasi yang indah”[1]

Syair ialah kalimat yang ber-muqaffa dan ber-wazan dengan disengaja. Karena itu, hal-hal serupa yang diucapkan secara tidak sengaja bukan dinamakan sebagai syair.

Dr. Ubadah berkata – seperti halnya Imam Syafi’i dan Al-Ghazali berpendapat bahwa untaian sya’ir sama saja dengan ucapan biasa. Yang baik darinya adalah baik, sedangkan yang buruk adalah buruk pula. Demikian pula mendengarkan sya’ir, ada yang mubah, yang dianjurkan, yang wajib, yang makruh dan yang haram!

Kemudian ia membagi sya’ir ke dalam tujuh bagian :

  1. Membangkitkan untuk berziarah ke tempat-tempat suci, dan mengajak kaum Muslim dari seluruh penjuru bumi agar bergegas menuju al-haramain asy-syarifain (Makkah dan Madinah).
  2. Membakar semangat untuk berperang guna membela akidah dan Negara.
  3. Menggambarkan sengitnya pertempuran, kegagahan dalam perang tanding serta ketabahan para pemberani di saat-saat yang genting.
  4. Mengenang jasa orang yang telah wafat.
  5. Melukiskan saat-saat yang penuh kegembiraan dan kepuasan hati, baik untuk dikenang ataupun diharapkan kelanggengannya.
  6. Melukiskan cinta yang suci, mengungkap perasaan para pencinta dan mengharapkan pertemuan kembali setelah berpisah.
  7. Melukiskan kebesaran Illahi dengan menyebutkan sifat-sifat-Nya dengan segala keagungan yang memang layak bagi-Nya.[2]

  1. b.      Syair yang Dilarang

Allah swt. Berfirman :

Artinya:

224. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.

225. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah,

226. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak  mengerjakan(nya)?

227.  Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.

Yang dimaksud dengan ayat Ini ialah bahwa sebagian penyair-penyair itu suka mempermainkan kata-kata dan tidak mempunyai tujuan yang baik yang tertentu dan tidak punya pendirian.

Al-Ghaawuun, orang-orang yang sesat di dalam syair mereka, lalu orang lain mengikuti jejak mereka dan meriwayatkan syair-syair dari mereka. Perawi dan orang-orang yang menjadi sumbernya dicela oleh syariat.

Di tiap-tiap lembah, maksudnya dalam setiap kesenian bicara, mereka salami semua, lalu mereka melampaui batas dengannya, baik dalam pujian maupun celaan. Mereka selalu berdusta dan mereka tercela dari berbagai sudut pandangan.

حَدِيثُ ابي هريرة رضي الله عنه،قال النبي ص.م. : ((اصد ق كلمة قالهاالشاعر،

كلمة لبيد : الا كل شيءماجلااللا با طل* وكاد امية بن ابي الصلت ا ن يسلم))

   Artinya:

Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Setepat-tepat kalimat yang diucapkan oleh pujangga ialah kalimat Labied: Ingatlah segala sesuatu selain Allah itu batil (palsu). Dan Umayyah bin Abi Asshalt hampir masuk Islam. (Bukhari, Muslim di  كتاب الادب:باب مايجوزمن الشعروالرجزوالحداء ومايكره منه  ). Karena mengubah sajak yang berisi tuntunan iman, tetapi ia sendiri tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw.[3]

Labid wazannya sama dengan ‘abid; dia adalah Ibnu Rabi’ah Ibnu Amir Al-Amiri, seorang sahabat dan salah seorang di antara para penyair terkemuka. Dia telah mengarang suatu kasidah yang di dalamnya terdapat salah satu bait syair yang mengatakan sebagai berikut:

“Ingatlah, segala sesuatu selain Allah pasti musnah.”[4]

Dengan kata lain, segala sesuatu pasti musnah dan lenyap kecuali Allah swt. Kalimat ini merupakan kalimat yang paling benar yang pernah di katakana oleh penyair karena maknanya sama dengan apa yang terkandung di dalam firman-Nya :

Artinya:

Semua yang ada di bumi itu akan binasa.  (Ar-Rahman:26)

Bangsa Arab dari dahulu dikenal sebagai bangsa yang fasih dan pandai dalam menggubah syair. Al-Quran diturunkan di daerah Arab, yang di kenal maju di bidang syair. Hal itu menyebabkan Al-Quran banyak menyinggung tentang syair, bahkan dalam Al-Quran terdapat satu surat yang dinamakan para penyair (Asy-Syu’ara).

Al-Quran memiliki keindahan ayat-ayatnya yang sulit ditandingi oleh penyair manapun, bahkan semua penyair Arab telah ditantang oleh Al-Quran; baik dari bangsa manusia atau jin untuk membuat satu surat saja yang seperti Al-Quran dan ternyata tidak ada yang mampu menjawab tantangan tersebut.[5]

Namun mereka tetap menyangka Al-Quran itu merupakan syair dan Muhammad sebagai pembuat syair dan penyihir. Pendapat ini dibantah oleh Al-Quran. Sebagaimana Allah swt. berfirman:

Artinya:

Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan.(Yaasin:69)

Hukum asal bersyair makruh dan tidak boleh dilakukan karena bersyair merupakan sumber bagi berbangga diri dan kesesatan, serta adakalanya mendorong kepada perbuatan yang tidak diperbolehkan oleh syariat. Ayat ini memiliki maksud bahwa Allah tidak mengajarkan syair kepada Nabi, dan tidak layak baginya mengajarkan syair kepada umatnya, sebab syair adalah perkataan manusia.[6]

Dalam hadits disebutkan :

حديث ابي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله ص.م.: لان يمتلئ جوف رجل قيحايريه، خيرمن ان يمتلئ شعرا.

Artinya:

Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. Bersabda: Jika perut seseorang itu penuh dengan nanah yang akan merusak, niscaya lebih baik dari pada penuh dengan sya’ir (sajak). (Bukhari, Muslim.)

Memenuhi perut dengan nanah dapat meracuni orang yang bersangkutan dan dapat membunuhnya. Hal ini hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar. Tetapi memenuhi rongga dada dengan hafalan syair dosanya lebih besar.

Ancaman ini menyangkut bagi syair-syair yang dicela oleh syariat.

Abu Sa’id r.a. menceritakan hadits berikut:

بَيْنَا نَحْنُ نَسِيْرُ مَعَ النَّبِيِّ ص.م. بِالْعَرْجِ إِذْعَرَضَ شَاعِرٌ يُنْشِدُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهُ ع.م. : خُذُ واالشَّيْطَانَ أَوْ أَمْسِكُواالشَّيْطَانَ, لَاَنْ يَمْتَلِىءَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتُلِىءَ شِعْرً.

Artinya:

Ketika kami sedang berjalan bersama Nabi saw. di ‘Arj, tiba-tiba muncul seorang penyair yang mendendangkan syairnya. Rasulullah saw. bersabda, “Tangkaplah setan itu, atau tahanlah setan itu! Sesungguhnya bila seseorang memenuhi rongga dadanya dengan nanah, lebih baik baginya daripada memenuhinya dengan syair. (Riwayat Imam Muslim)

Nabi saw. menamakannya setan karena penyair tersebut adalah orang kafir, atau pengetahuan paling besarnya adalah syair, atau pada syairnya terkandung makna yang tercela.

Menurut sebagian ulama, syair yang dilarang adalah yang isinya menjelek-jelekkan atau memfitnah Nabi saw. Akan tetapi, hal itu dibantah ulama lain. Mereka berkata bahwa syair yang dilarang itu tidak dapat dikhususkan kepada hal-hal yang berisi ejekan, karena ada yang lebih berbahaya yakni yang berisikan kekufuran.[7]

  1. c.       Syair yang Diperkenankan

Jundup r.a. menceritakan hadits berikut:

بينما النبي ص.م. يمشى اذاصابه حجرفعثر فذ ميت ا صبعه فقال: هل انت الا اصبع دميت وفى سبيل الله ما لقيت.

Artinya:

Ketika Nabi saw. sedang berjalan, tiba-tiba terantuk batu sehingga beliau terjatuh dan salah satu tangannya terluka, lalu beliau bersabda, “Tiadalah engkau ini melainkan sebuah jari yang terluka dengan sedikit darah di jalan Allah.” (Riwayat Bukhari)

Disini Rasulullah saw. meniru atau menukil syair yang pernah dikatakan oleh Abdullah ibnu Rawaahah, bukan berasal dari diri beliau sendiri.[8]

            Dalam riwayat lain disebutkan:

وَسُعِلَتْ عَا ئِـشَةَ ر.ع. : هَلْ كَانَ النَّبِيُّ ص.م. يَتَمَثَّلُ بِشَىْءٍ مِنَ الشِّعْرِ؟ قَالتْ : كَانَ يَتَمَثَّلُ بِشِعْرِابْنِ رَوَاحَةَ وَ يَتَمَثَّلُ وَيَقُوْلُ : وَيَأْ تِيْكَ بِلْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تَزَوِّدِ.

Artinya:

Siti Aisyah r.a. pernah ditanya, “Apakah Nabi saw. menirukan sesuatu dari syair?” Ia menjawab, “Beliau pernah meniru syair Ibnu Rawaahah dan pernah menirukan sebuah syair yang mengatakan, ‘Dan kelak akan datang kepadamu berita-berita yang dibawa oleh seseorang yang tidak kamu inginkan (kedatangannya)’.” (Riwayat Turmudzi)

ان من موجبات المغفرة بذ ل السلا م وحسن الكلا م.

Artinya:

Sesungguhnya dari sya’ir itu lahir hikmah dan dari bayan lahir sihir.[9]

Hikmah ialah perkataan yang benar sesuai dengan kenyataan.

Pendapat lain menyatakan, yang dimaksud dengan hikmah ialah ucapan yang memelihara diri dari ketololan dan kebodohan.

Diantara syair itu ada yang mengandung hikmah, seperti syair yang menyangkut masalah ilmu syariat, syair yang menyangkut nasehat, dan peribahasa yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Syair-syair semacam itu dianjurkan untuk didendangkan dan di pelajari.[10]

            Di dalam “Al Jamu’ul Kabir” diriwayatkan dari Ahmad bin Abi Bakar Al-Asadi dari ayahnya, bahwa ia telah datang kepada Rasulullah. Ketika rasulullah mengetahui tentang kepasihan lidahnya, Rasulullah berssabda: “Betapa bagusnya wahai saudaraku, apakah engkau dalam membaca Al-Quran juga dengan kefasihanmu itu?”. Jawabnya: “ Tidak, tetapi yang telah kubaca tadi adalah syair dari diriku sendiri, dengarlah!”. Kata Rasulullah: “Bacakanlah!”. Ujarnya:

Suara pendengki menawan hati mereka. Penghormatanmu yang sedikit terkadang mengangkat kerendahan. Jika mereka mengungkapkan keburukan, ungkapkanlah yang sepadan. Jika mereka mendiamkanmu, janganlah engkau tanya. Dan jika mereka menyakitimu, biarkan. Apa yang dikatakannya, jangan kau katakana”.

            Maka Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya dari syair . . . dan seterusnya seperti hadits di atas.” Kemudian beliau membaca: “Qul huwallahu ahad”.

Jabir Ibnu Samurah r.a. menceritakan hadits berikut:

جَالَسْتُ النَّبِىُّ ص.م. أَكْثَرَ مِنْ مِا ئَةِ مَرَّةٍ فَكَانَ أَصْحَا بُهُ يَتَنَا شَدُوْنَ الشِّعْرَ وَ يَتَذَا كَرُوْنَ أَشْيَاءَ مِنْ أَمْرِالجَا هِلِيَّةِ وَهُوَسَاكِتٌ وَرُبَّمَا تَبَسَّمَ مَعَهُمْ.

Artinya:

Aku sering duduk bersama Nabi saw. lebih dari seratus kali, para sahabatnya sering mendendangkan syair-syair serta saling bercerita tentang berbagai peristiwa di masa jahiliyah, sedangkan beliau diam saja dan adakalanya beliau ikut tersenyum bersama mereka. (Riwayat Turmudzi)

            Hadits ini menandakan bahwa Rasulullah saw. tersenyum ketika mendengar syair yang mengandung hikmah sebagai ungkapan setuju.[11]

            Syair bergantung kepada bagaimana isinya, jika berisi tuntunan syara’, maka diperbolehkan. Akan tetapi, apabila isinya bertentangan dengan ajaran Islam, maka tidak diperbolehkan.[12]


[1] Rachmat Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), h.276

[2] Muhammad Al-Baqir, Studi Kritis Hadits, (Bandung:Mizan,1996), h.95

[3] Muhammad Fu’ad Abdul Baqi,  Al-Lu’lu Wal Marjan, (Surabaya:PT Bina Ilmu,), h.867

[4] Syekh Mansur Ali Nashif, Mahkota Pokok-pokok Hadits Rasulullah, (Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007), h.829

[5] Rachmat Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), h.277

[6] Syekh Mansur Ali Nashif, Mahkota Pokok-pokok Hadits Rasulullah, (Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007), h.824

[7] Rachmat Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), h.284

[8] Syekh Mansur Ali Nashif, Mahkota Pokok-pokok Hadits Rasulullah, (Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007), h.828

[9]Ibnu Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi AD Damsyiqi,  Asbabul Wurud 2, (Jakarta:Kalam Mulia,2006), h.84

[10] Ibid, h.830

[11] Syekh Mansur Ali Nashif, Mahkota Pokok-pokok Hadits Rasulullah, (Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007), h.838

[12] Rachmat Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), h.280

————————————————————————————————————————————————————————

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Syair bergantung kepada bagaimana isinya, jika berisi tuntunan syara’, maka diperbolehkan. Akan tetapi, apabila isinya bertentangan dengan ajaran Islam, maka tidak diperbolehkan.

  1. Saran

Berkat petunjuk dan pertolongan Allah SWT, Alhamdulillah makalah ini dapat diselesaikan. Namun, penulis mengakuai bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan. Untuk itu, penulis mengharapakan kritik dan saran yang membangun dari semuanya, terutama kepada dosen Pembimbing demi tercapainya kesempurnaan makalah ini.

>_<

>_<

mohon tinggalkan comentnya ya,,,,,,,,

 

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke MAKALAH HADITS : PENELITIAN RASULULLAH TERHADAP SYAIR

  1. Wah,, baguz banget isinya…

  2. fika thewunk berkata:

    sedikit masukan dari saya,,, saran anda seperti kata pegantar sebaiknya saran itu memaparkan masukan bagi pembaca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s